Rabu, 07 November 2018


MAKALAH LAPORAN DAN PENULISAN
PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DAN TINDAKAN PENCEGAHANNYA


Disusun oleh:
Adrianus Jonbosi Endong (10316264)



KELAS 3TA05
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin, rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah dengan judul “Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Gedung dan Tindakan Pencegahannya” ini disusun dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas untuk mata kuliah Laporan dan Penulisan. Melalui makalah ini, saya berharap agar saya dan pembaca mampu mengenal lebih jauh mengenai penyebab keterlambatan sebuah proyek serta cara pencegahannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses penyusunan makalah ini.




Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN

1.1                Latar Belakang
      Manajemen proyek konstruksi adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumberdaya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan (ImamSuharto,1999). Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa konsep manejemen proyek konstruksi mengandung maksud sebagai berikut :
a.  Manejemen berdasarkan fungsinya yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan seperti manusia, keuangan, material dan peralatan.
b.      Manajemen proyek mempunyai waktu kegiatan yang dikelola berjangka pendek dengan sasaran yang telah ditentukan secara spesifik, dimana dalam pelaksanaaannya memerlukan teknik dan metoda pengelolaan yang khusus, terutama dalam aspek perencanaan dan pengendalian.
c.         Memakai pendekatan sistem ( System approach to management).
d.        Mempunyai Hierarki ( arus kegiatan ) horizontal dan vertikal.
            Keberhasilan dalam proses penyelesaian proyek harus berpegang pada tiga kendala (triple constrain) yaitu sesuai spesifikasi yang ditetapkan, sesuai waktu dan biaya yang ditetapkan. Keterkaitan waktu dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung perlu mendapat perhatian serius untuk menghindari keterlambatan proyek, sehingga diperlukan pengkajian khusus dalam proses pelaksanaan konstruksi. Keterlambatan proyek konstruksi bisa saja disebabkan salah dalam melakukan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek dalam tahap perencanaan, atau bermacam-macam kemungkinan misalnya disebabkan Manajemen yang tidak tepat, masalah bahan material , tenaga kerja, peralatan, keuangan, dan lingkungan yang tidak mendukung sehingga terhambatnya pelaksanaan proyek. Dan secara pasti mengakibatkan keterlambatan pekerjaan. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi tepat waktu, dapat di pastikan saling menguntungkan baik kontraktor maupun owner, oleh sebab itu perusahaan yang baik akan selalu berusaha melaksanakan sesuai waktu yang telah di tetapkan atau berusaha meminimalkan keterlambatan dengan memilih tindakan koreksi yang perlu dilakukan dan mengambil keputusan berdasarkan analisa dari berbagai faktor keterlambatan. Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk mengindentifikasi dan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek.

1.2                   Rumusan Masalah
              Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dalam penelitian ini diangkat permasalahan sebagai berikut:
1.        Apa faktor- faktor yang mempengaruhi keterlambatan sebuah proyek pembangunan?
2.   Apakah ada faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan sebuah proyek pembangunan gedung?
3.  Bagaimana solusinya agar tidak terjadi keterlambatan dalam melaksanakan suatu proyek pembangunan gedung?

1.3                   Tujuan Penelitian
                Tujuan penelitian yang dilakukan meliputi antara lain sebagai berikut:
1.        Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.
2.        Mengetahui faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.
3.   Mengetahui tindakan yang perlu diperhitungkan terhadap faktor faktor risiko yang dominan mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.

1.4                   Manfaat Penelitian
1.       Bagi pemrakarsa proyek pembangunan gedung.
Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam mencari tahu dan menyelesaikan suatu masalah yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek pembangunan gedung.
2.        Bagi mahasiswa dan masyarakat.
Penelitian ini dapat menambah wawasan mereka tentang faktor-faktor keterlambatan proyek pembangunan gedung dan cara mengatasinya.


BAB II
TINJAU PUSTAKA


            Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukan baik yang ada di atas, di bawah tanah atau di air. Bangunan biasanya di konotasikan dengan rumah, gedung ataupun segala sarana, prasarana atau insfrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya.
            Menurut Wulfram ( 2004) Proyek konstruksi dapat di bedakan menjadi dua jenis kelompok bangunan yaitu :
a.         Bangunan gedung,dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Proyek Konstruksi menghasilkan tempat orang bekerja atau tinggal.
1.         Pekerjaan di laksanakan pada lokasi yang relatif sempit.
3. Manajemen di butuhkan, terutama untuk progressing pekerjaan.
b.        Bangunan Sipil, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Proyek konstruksi di laksanakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia.
2. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang luas atau panjang.
3. Manajemen dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan.


BAB III
LANDASAN TEORI


3.1                   Proyek Konstruksi Gedung
         Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan membuat suatu bangunan, yang umumnya mencakup pekerjaan pokok dalam bidang teknik sipil dan teknik arsitektur. Di dalam suatu proyek konstruksi terdapat berbagai kegiatan, kegiatan proyek merupakan suatu kegiatan sementara dan berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber dana tertentu untuk melaksanakan tugas dengan sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Soeharto (1999), Banyak kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan proyek konstruksi menimbulkan banyak permasalahan yang bersifat kompleks.
Kompleksitas proyek tergantung dari :
1.        Jumlah macam kegiatan di dalam proyek.
2.        Macam dan jumlah hubungan antar kelompok (organisasi) di dalam proyek itu sendiri.
3.        Macam dan jumlah hubungan antar kegiatan (organisasi) di dalam proyek dengan pihak luar.
            Kompleksitas ini tergantung pada besar kecilnya ukuran suatu proyek. Proyek kecil dapat saja bersifat lebih kompleks dari pada proyek dengan ukuran yang lebih besar. Kompleksitas memerlukan pengaturan dan pengendalian yang sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan-benturan dalam pelaksanaan proyek, maka diperlukan adanya manajemen proyek yang handal dan tangguh untuk menopang pelaksanaan proyek. Gambaran proses pekerjaan konstruksi menurut Hillebrandt (1988) sebagai sesuatu yang panjang, rumit dan melibatkan banyak pihak. Keberhasilan proses pekerjaan konstruksi sangat tergantung dari saling keterkaitan antara pihak yang terlibat dalam proses konstruksi. Dalam proses konstruksi pihak-pihak yang terlibat dapat dari perorangan/perusahaan sebagai pelaku utama, dimana pemilik, bisa swasta/swasta perorangan/pemerintah dan bertanggung jawab atas konsepsi proyek, dan pemilik adalah pihak yang paling menentukan. Pemilik dibantu oleh Engineering/designer, seperti arsitek atau consultan engineering. Untuk pelaksanaan fisik dikerjakan oleh kontraktor umum atau kontraktor spesialis.

3.2              Manajemen Proyek Konstruksi Gedung
          Manajemen proyek konstruksi mempunyai karakteristik, unik, melibatkan banyak sumber daya, dan membutuhkan organisasi. Dalam proses penyelesaiannya harus berpegang pada tiga kendala ( triple constrain): sesuai spesifikasi yang ditetapkan, sesuai time schedule dan sesuai biaya yang ditetapkan (Wulfram, 2007) Selanjutnya Wulfram mengatakan tujuan dari manajemen proyek adalah untuk mendapatkan metode atau cara teknis yang paling baik agar dengan sumber-sumber daya yang terbatas di peroleh hasil maksimal dalam hal ketepatan, kecepatan, penghematan dan keselamatan kerja secara komprehensif. Menurut Soeharto (1999). Adapun tujuan dari proses manajemen proyek adalah sebagai berikut:
a.    Agar semua rangkaian kegiatan tersebut tepat waktu, dalam hal ini tidak terjadi keterlambatan penyelesaian suatu proyek
b.       Biaya yang sesuai, maksudnya agar tidak ada biaya tambahan lagi di luar dari
perencanaan biaya yang telah di rencanakan.
c.        Kualitas sesuai dengan persyaratan.
d.        Proses kegiatan sesuai persyaratan.
Manajemen merupakan suatu proses yang khas, yang terdiri dari tindakan perencana
(planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan atau pelaksana (actuating), dan pengawasan (controlling), yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.

3.3              Konsep Perencanaan Konstruksi
           Menurut (Asiyanto,2005),berdasarkan kontrak konstruksi dan dokumen gambar dan spesifikasi teknis yang ada, maka harus disusun suatu perencanaan pelaksanaan agar sasaran yang ingin dicapai dapat direalisasikan. Keberhasilan proyek konstruksi sangat ditentukan oleh Perencanaan konstruksi baik dalam pengelolaan dan pelaksanaan proyek konstruksi, antara lain mencangkup:
a.         Pemilihan teknologi.
b.        Definisi tugas pekerjaan.
c.         Estimasi sumber daya yang diperlukan.
d.        Durasi untuk tugas individu.
e.         Identifikasi dari setiap interaksi di antara
berbagai tugas pekerjaan.
Rencana pembangunan konstruksi yang baik adalah dasar untuk mengembangkan anggaran, jadwal dan mutu pekerjaan. Selain itu penggunaan Subkontraktor dalam perencanaan teknis konstruksi perlu keputusan organisasi. Sedangkan langkah-langkah perencanaan yang perlu dilakukan setelah data-data yang terkumpul dan cukup lengkap dari berbagai aspek yang dianggap perlu. Antara lain melakukan kajian terhadap gambar rencana dan spesifikasi teknis proyek yang ada, jika nantinya tidak sesuai dengan kondisi pelaksanaan dapat disempurnakan dengan melakukan konfirmasi ke konsultan perencana. Kemudian melakukan perhitungan yang lebih teliti terhadap volume pekerjaan, kebutuhan material, peralatan serta tenaga kerja yang digunakan. Dan dilanjutkan menyusun anggaran biaya pelaksanaan yang rinci yang disesuaikan dengan alokasi sumber daya yang dibutuhkan dan dana yang tersedia. Kemudian memilih jenis teknologi dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan perumusan rincian kegiatan dengan jadwal yang akurat dan terpadu. Serta melakukan persiapan aspek administratif, pengadaan serta pengorganisasian pihak-pihak yang terlibat, penyusunan program kerja, perencanaan pengelolaan risiko, perencanaan kesehatan dan keselamatan kerja serta perencanaan sistem informasi manajemen.

3.4              Faktor Risiko
      Faktor risiko yang melekat pada proyek konstruksi adalah ketidakpastian (uncertainty). Ketidakpastian sendiri dapat dibedakan antara lain. Ketidakpastian Risiko yang terkait dengan keadaan adanya ketidakpastian dan tingkat ketidakpastiannya terukur secara kuantitatif, apabila kita dapat memperoleh informasi. Selanjutnya Ketidakpastian yang diartikan dengan keadaan dimana ada beberapa kemungkinan kejadian yang akan menyebabkan hasil yang berbeda, tetapi tingkat kemungkinan atau probabilitas kejadiannya tidak diketahui secara kuantitatif,(Bramantyo,2008). Menurut PMBOK (Project Management Institute Body of Knowledge,2008) definisi manajemen risiko adalah merupakan proses formal dimana faktor-faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, dianalisis, respon, dan dikendalikan. Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang formal yang berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya perubahan yang tidak diinginkan. Di dalam konteks suatu proyek, merupakan suatu seni dan iptek dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon terhadap faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek. Enam tahapan dalam manajemen risiko, antara lain:
a.         Perencanaan Manajemen Risiko.
b.        Identifikasi Risiko.
c.         Analisa Risiko Kualitatif.
d.        Analisa Risiko Kuantitatif.
e.         Perencanaan Respon Risiko.
f.         Kontrol dan Monitoring Risiko.
Adapun tujuan tujuan dari manajemen risiko adalah untuk meningkatkan kinerja proyek dari awal sampai selesai dengan melakukan identifikasi, evaluasi, dan kontrol yang berhubungan dengan risiko proyek.

3.5              Kinerja Waktu Proyek Konstruksi
        Menurut Abrar (2009) standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk seluruh tahapan kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya, dari semua informasi dan data yang diperoleh dilakukan proses penjadwalan sehingga akan ada output berupa format-format laporan lengkap mengenai progress waktu. Seperti Barchart, Network Planning, Kurva S dan kurva Earned Value. Hasil pemantauan dari laporan pada format-format diatas, perlu dilakukan evaluasi dan koreksi dengan cara memperbarui data dan informasi agar kinerja waktu tercapai sesuai rencana. Selanjutnya masalah-masalah yang timbul yang dapat menghambat kinerja waktu adalah sebagai berikut.
1.        Alokasi penempatan sumber daya tidak efektif karena penyebarannya fluktuatif
dan ketersediaan sumber daya yang tidak mencukupi.
2.        Terjadinya keterlambatan proyek disebabkan oleh :
a.         Jumlah tenaga kerja yang terbatas.
b.        Peralatan yang tidak mencukupi.
c.         Metode kerja yang salah.
d.        Kondisi cuaca yang buruk.
Disamping itu waktu proyek dapat juga dipengaruhi oleh aspek sosial ekonomi,
menurut Yasin (2006) aspek sosial ekonomi merupakan aspek yang sulit diprediksi karena tergantung dari karakteristik, kondisi masyarakat setempat, dan
permasalahan pada bidang ekonomi yang mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap kelancaran proyek. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam aspek sosial ekonomi yang dikutip dari Tangdialla adalah disebabkan :
a.         Keharusan menggunakan tenaga kerja tertentu disekitar proyek berada yang
bertujuan mengurangi kecemburuan sosial (Yasin,2006), tetapi keharusan memakai tenaga kerja tersebut berdampak pada pelaksanaan proyek konstruksi, karena produktivitas pekerja yang rendah karena kurangnya pengalaman.
b.        Keselamatan kerja menurut (Nunnally, 1998 ) adalah salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek terutama pada waktu dan biaya. Penyebab-penyebab sekunder kecelakaan kerja yang terjadi dipengaruhi oleh antara lain hubungan kerja, komunikasi kerja, persaingan kerja, penataan tempat kerja dan sarana keselamatan kerja (Majalah Konstruksi, Juni 1995). Sedangkan kecelakaan kerja disebabkan kecelakaan primer yang terjadi karena batas waktu pelaksanaan proyek semakin dekat sehingga mengabaikan keselamatan kerja.
c.         Faktor keamanan dalam suatu proyek menurut Ritz (1994) perlu diperhatikan
untuk menghindari kehilangan material dan peralatan dalam lokasi proyek yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan sehingga mengganggu pelaksanaan proyek. Oleh sebab itu, menurut Gustavson, (1995). Kualitas dan keamanan proyek harus terus diperhatikan baik itu pada saat pelaksanaan proyek berlangsung ataupun pada malam hari ataupun pada hari libur.
d.  Pemakaian material yang telah ditetapkan sesuai dengan anjuran dari pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri dalam rangka guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghemat devisa, dan jika anjuran itu diatur dalam suatu undang-undang khusus yang sifatnya tegas, menurut Yasin (2006), memungkinkan akan menghambat penyelesaian proyek jika mendapatkan bahan bangunan tertentu tidak terpenuhi.

3.6              Pelaksanaan Proyek Konstruksi
       Sumber daya merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan, oleh sebab itu harus diperhatikan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Sumber daya material merupakan salah satu sumber permasalahan proyek yang mempengaruhi terjadinya keterlambatan proyek. Dalam mengadakan sumber daya manajemen harus mempunyai informasi-informasi yang dapat menunjang kegiatan proyek, memiliki dokumen, prosedur dan jadwal sesuai dengan deskripsi kerja yang
ada. Menurut ( Huston 1998) untuk menjalankan kualitas dari kontrak pekerjaan,
persyaratan kualitas yang ditetapkan pemilik proyek dapat digunakan untuk pendekatan harga dan schedule dalam pengerjaan proyek. persyaratan-persyaratan yang harus dipertimbangkan untuk mengatur material, peralatan, engginering dan kontrak konstruksi. Oleh sebab itu dalam mengadakan sumber daya, perlu diketahui beberapa hal, antara lain:
a.         Sumber daya yang dibutuhkan dan persyaratan pengadaan sumber daya?
b.        Sumber daya didatangkan dari mana?
c.         Bagaimana pengelolaan sumber daya?
Menurut Park (1979), Kegagalan kontraktor didalam pelaksanaan proyek konstruksi sering terjadi, kegagalan tersebut disebabkan oleh:
a.         Ketidakcakapan (incompetenci).
b.        Kurang pengalaman manajerial (lack of managerial experience).
c.         Ketidakseimbangan pengalaman (Unbalanced experience).
d.        Kurang pengalaman dalam bisnis konstruksi (lack experience in the line).
e.         Kelalaian (Negleckt).
f.         Penipuan (Fraud).
g.        Bencana (Disaster).
Kompleksitas disain merupakan fungsi dari constructability, pemakaian teknologi maju metoda dan peralatan khusus serta integrasi bermacam-macam disiplin. Metode yang baik sangat berpengaruh terhadap barunya alat yang digunakan. Kontraktor yang memiliki pengalaman terhadap metode dan alat yang digunakan, akan menghadapi risiko yang lebih kecil.( Jahren & Ashe 1990).


BAB IV
METODE PENELITIAN


4.1       Kerangka Pemikiran
          Menurut Narbuko (2007), mengatakan seluruh kegiatan sejak dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penyelesaiannya harus merupakan satu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh, menuju kepada satu tujuan yang tunggal, yaitu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah. Dari studi Literature untuk mengetahui dan mengumpulkan factor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek, didapat 6 ( enam) Sumber faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi adalah:
1.        Pencapaian spesifikasi.
2.        Ketersediaan material.
3.        Sumber Daya Manusia tidak memadai.
4.        Keterlambatan alat.
5.        Sistim pengendalian proyek.
6.        Metoda pelaksanaan.
Dari enam sumber risiko dapat pula ditentukan rincian dari sumber risiko yang merupakan dampak dari keterlambatan proyek konstruksi, dan didapat rincian faktor faktor yang menyebabkan keterlambatan proyek, sebagai berikut:
1.         Keahlian dan sumber daya yang tidak cukup untuk melaksanakan desain spesifikasi.
2.        Melakukan perubahan terhadap desain.
3.        Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi.
4.        Kenaikan harga material bahan bangunan.
5.        Material yang di gunakan kurang yang di butuhkan.
6.        Penumpukan material di lokasi proyek.
7.        Ketidak tepatan waktu pemesanan bahan.
8.        Kekurangan bahan konstruksi.
9.        Menempatkan tenaga kerja yang kurang berpengalaman di bidangnya.
10.    Jumlah tenaga kerja yang tidak mencukupi.
11.    Menggunakan tenaga kerja yang kurang terampil di bidangnya.
12.    Kekurangan tenaga kerja.
13.    Mutu peralatan yang di gunakan kurang baik.
14.    Alat yang di gunakan tidak sesuai dengan spesifikasi.
15.    Jumlah peralatan kurang dari yang dibutuhkan.
16.    Kerusakan alat.
17.    Schedule pelaksanaan tidak sesuai yang di rencanakan.
18.    Jadwal pengadaan material tidak sesuai yang di rencanakan.
19.    Metoda pelaksanaan pekerjaan tidak tepat.
20.    Metode pengoperasian alat tidak tepat.
Variabel-variabel tersebut diatas diperoleh melalui studi literatur dan survei kepada responden dan kepada para pakar. Kemudian dilanjutkan dengan mencari tingkat pengaruh dari masing-masing variabel. Dan masing-masing faktor tersebut menghasilkan tingkat pengaruh terhadap peningkatan kinerja waktu proyek.

4.2       Pengumpulan Data
            Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey melalui pengisian kuisioner dan wawancara kepada responden. Data yang akan diteliti dan dianalisa secara rinci terdiri dari data primer dan data sekunder.
a.         Data primer merupakan data yang dikumpulkan dengan melakukan studi
lapangan. Data primer didapat melalui survei dengan teknik wawancara kepada pakar yang bekerja di bidang jasa konsultan/konstruksi dan para pelaku pengambil kebijakan.
b.        Data Sekunder merupakan data atau informasi yang diperoleh dari studi
literatur, merupakan data yang sudah diolah, meliputi : Data yang digunakan
sebagai landasan teori dari penelitian, yang diperoleh dari buku-buku, jurnal,
makalah, serta dari penelitian yang berkaitan terdahulu.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner pada responden. Dengan kriteria dan persyaratan sebagai berikut:
a.         Penelitian akan dilakukan terhadap proyek konstruksi gedung yang berada di Propinsi Sumatera Barat.
b.        Difokuskan pada pelaksanaan pengadaan proyek jasa konstruksi
pemerintah dengan menerapkan Keppres 80 Tahun 2003.
c.         Kontraktor golongan Kecil dan Menengah.
d.   Populasi penelitian ini melibatkan Owner, Kontraktor, Konsultan perencana dan Konsultan Supervisi.
Sedangkan Sampel responden yang digunakan adalah yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini berdasarkan dari reputasi, pengalaman dan kerjasama sebagai berikut:
a.         Responden penelitian adalah owner dan konsultan supervisi dan kontraktor.
b.        Owner adalah kepala satker dan penjabat pembuat komitmen serta pengendali teknis.
c.   Bagi konsultan supervisi dan kontraktor memiliki pengalaman memimpin perusahaan jasa konstruksi.
d.        Memiliki pendidikan yang menunjang di bidangnya dan reputasi yang baik.


BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN


5.1         Analisa Hubungan Antara Kinerja Waktu Konstruksi dengan Factor Risiko
            Hasil tabulasi data digunakan sebagai data input ke dalam SPSS 17, input data merupakan hasil dari sampel varibel faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Bukittinggi. Analisa statistic deskriptif dengan cara menjumlahkan data seluruh individu dalam kelompok itu, kemudian dibagi dengan jumlah individu yang ada pada kelompok tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan rumus berikut:
i = n
i = 1
Me =......................................
n
Dimana:
Me = Nilai rata-rata (mean)
N = Jumlah responden
Xi = Frekuensi pada (i) yang diberikan responden terhadap masing- masing Faktor Keterlambatan
i = kategori index responden
Untuk variable bebas, penilaian terhadap dampak/pengaruh risiko dapat dilihat seperti tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1 Skala Dampak/ Pengaruh Risiko
Skala
Penilaian
Keterangan
1
Sangat rendah
Tidak berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
2
Rendah
Kadang berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
3
Sedang
Berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
4
Tinggi
Sering berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
5
Sangat tinggi
Selalu berdampak pada waktu pelaksanaan proyek

Dari Analisa statistik deskriptif yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai mean dan median dari keseluruhan penilaian yang telah diberikan oleh responden atas variabel yang telah ditanyakan . Penggunaan dari nilai mean ditujukan untuk mendapatkan gambaran secara kualitatif mengenai respon dari responden. Tabel deskriptif dampak factor resiko yang mempengaruhi kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi adalah seperti tabel 5.2 dibawah ini.

Tabel 5.2 Deskriptif Dampak factor resiko yang mempengaruhi kinerja
waktu pelaksaan proyek konstruksi.
Variabel
Faktor risiko yang mempengaruhi keterlambatan proyek
Tingkat dampak risiko
Mean
Median
X1
Keahlian yang tidak cukup melaksanakan desain spesifikasi
4,7419
5,00
X2
Melakukan perubahan terhadap desain
4,8387
5,00
X3
Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi
2,9677
3,00
X4
Kenaikan harga material
2,4839
2,00
X5
Material kurang dari yang dibutuhkan
4,6129
5,00
X6
Penumpukan material dilokasi proyek
3,9677
4,00
X7
Ketidaktepatan waktu dalam pemesanan bahan
4,1935
4,00
X8
Kekurangan bahan konstruksi
3,9032
4,00
X9
Menempatkan tenaga kerja yang tidak berpengalaman di bidangnya
4,2903
5,00
X10
Jumlah tenaga kerja yang kurang dari yang dibutuhkan
4,1613
4,00
X11
Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil di bidangnya
4,6452
5,00
X12
Kekurangan tenaga kerja
2,9032
3,00
X13
Mutu yang digunakan kurang baik
3,2258
4,00
X14
Alat yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi
4,0323
4,00
X15
Jumlah peralatan yang kurang dibutuhkan
4,5806
5,00
X16
Kerusakan alat
3,5484
4,00
X17
Jadwal perencanaan yang tidak sesuai dengan perencanaan
3,7742
4,00
X18
Jadwal pengadaan material yang tidak sesuai yang direncanakan
3,8065
4,00
X19
Metode pelaksanaan tidak tepat
3,9032
4,00
X20
Metode pengoperasian alat tidak tepat
4,9032
5,00

Adapun grafik deskriptif dampak faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu
pelaksanaan proyek konstruksi adalah seperti Gambar 5.1 dibawah ini.


Gambar 5.1. Grafik Deskriptif Dampak Faktor Risiko yang mempengaruhi
kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi gedung.

Dari data dan grafik didapat nilai rata-rata tertinggi adalah pada variabel :
X 20 ( Metode pengoperasian alat tidak tepat)
X 2 ( Melakukan perubahan terhadap disain)
X 1 ( Keahlian yang tidak cukup untuk perubahan desain spesifikasi)
X 11 ( Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil)
X 5 ( Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan )
Kemudian untuk nilai rata – rata terendah yaitu pada variabel :
X4 ( Kenaikan harga material bahan bangunan)
X3 (Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi)
Untuk variabel Y, yang merupakan kinerja waktu pelaksanaan proyek, diperoleh nilai modus ( mode) sebesar 4, 84 yang berarti kinerja waktu tinggi.

Tabel 5.3. Frekuensi kemunculan Kinerja Y
Valid
Ferequency
Percent
Valid percent
Cumulative percent
4,00
5,00
Total
5
26
31
16,1
83,9
100,0
16,1
83,9
100,0
16,1
100,0


Gambar 5.2 Histogram Variabel Y

5.2       Temuan dan Bahasan
            Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa yang dominan yang berpengaruh tinggi terhadap kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi. Berdasarkan hasil pengolahan data, ditemui 20 peringkat faktor risiko dari (enam) sumber risiko yang ada pada pelaksanaan proyek konstruksi. Terdapat bebrapa variabel yang dominan dari faktor risiko yang paling yang berdampak dengan keterlambatan proyek konstruksi, yaitu:
1.        Metode pengoperasian alat tidak tepat
2.        Melakukan perubahan terhadap disain
3.        Keahlian yang tidak cukup untuk perobahan desain spesifikasi
4.        Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil
5.        Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan.
Sedangkan faktor risiko yang mendapatkan peringkat terendah adalah
1.        Kenaikan harga material bahan bangunan.
2.        Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi.
Adapun tindakan Preventive dan Corective untuk masing-masing faktor risiko yang dominan terhadap keterlambatan proyek dapat dilakukan sebagai berikut.
1.        Metode pengoperasian alat tidak tepat
Mencegah keterlambatan akibat pengoperasian alat tidak tepat, dengan kontraktor harus menggunakan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan, baik jenis peralatan maupun kapasitasnya. Dalam penawaran harus sudah diperhitungkan peralatan yang dipakai yang sesuai dengan kondisi pekerjaan dan lokasinya. Disamping itu operator yang menjalankan peralatan harus terampil dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan. Oleh sebab itu operator yang akan digunakan terlebih dahulu dilatih agar dalam pelaksanaan pekerjaan tidak ditemui permasalahan.
2.        Melakukan perubahan terhadap disain
Kontraktor harus mempelajari gambar-gambar desain yang akan dikerjakan sebelum pelaksanaan dimulai , bila ada hal-hal yang meragukan dalam desain tersebut segera didiskusikan dengan pemilik proyek dan konsultan pengawas untuk diambil langkah-langkah perbaikannya. dengan demikian setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pelaksanaan proyek, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
3.        Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil
Untuk tindakan preventive, kontraktor harus bisa menyediakan tenaga pelaksana yang mampu membina tenaga kerja yang kurang terampil menjadi terampil di bidangnya, dengan pemilihan tenaga pelaksana yang akan melaksanakan pekerjaan harus selektif. Sebelum pekerjaan dilaksanakan
dilakukan pelatihan in the jon Training. Dengan mengutamakan tenaga pelaksana yang sudah berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sejenis sehingga dapat mengajarkan ilmunya kepada tenaga kerja yang kurang terampil.


BAB VI
KESIMPULAN


            Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa permasalahannya akibat Metode pengoperasian alat tidak tepat, Melakukan perubahan terhadap disain, Keahlian yang tidak cukup untuk perubahan desain spesifikasi, Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil, dan Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan. Pada masa pelaksanaan proyek konstruksi dapat mempengaruhi waktu atau keterlambatan proyek konstruksi, dengan mengetahui faktor resiko yang dominan dapat membantu untuk mengambil keputusan dalam menentukan tindakan koreksi yang paling sesuai, untuk mengurangi resiko seminimal mungkin sampai pada batas yang dapat diterima.


DAFTAR PUSTAKA

1.        AbrarHusen, (2008) Manajemen proyek, perencanaan,penjadwalan &pengendalian proyek ,Yogyakarta : Penerbit Andi .
2.        Asiyanto,(2005).Construction Project Cost Management, Jakarta : Pradnya Paramita
3.        Bramantyo Djohanputro, (2008) , Manajemen Risiko Korporat, (Jakarta : Penerbit PPM.
4.        Imam Suharto, ( 1999) Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional) Jilid 1, Edisi kedua, Jakarta, penerbit Erlangga
5.        C. T. Jahren, and M. Ashe, “Predictors of Cost Overrun Rates,” ASCE –Journal of Construction Engineering and Management, 1990
6.        Nazarkhan Yasin,(2006). Mengenal kontrak konstruksi di Indonesia,Jalakta:
Penerbit Gramedia.
7.        Narbuko,Cholid dan Ahmadi H.Abu(2003),Metodologi Penelitian, Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara .
8.        Ritz, George. J. Total Construction Project Management.

Sabtu, 21 Oktober 2017

SOAL DAN PEMBAHASAN PEMINDAHAN TANAH MEKANIK

Kelas: 2TA05

Kelompok :8 

Anggota :

  1. Adrianus Jonbosi E          (10316264) 

  2. Claudio Pratama               (11316642) 

  3. Fajar Ari Priambudi          (12316546)  

  4. Muhammad Bayu Sugma  (14316752) 

  5. Nadya Olivia S                  (15316282) 


TUGAS KEDUA

1.     Sebutkan alat- alat berat yang sering digunakan pada pekerjaan konstruksi!
2.     Jelaskan perbedaan dan persamaan fungsi alat bulldozer dan motor grader!
3.     Jelaskan cara kerja Bulldozer !
4.     Jelaskan cara kerja Exavator !
5.     Jelasakan perbedaan fungsi alat Dum truk dengan Trailer!


JAWAB

1.     Alat- alat berat yang sering digunakan pada pekerjaan konstruksi:
ü DOZER 
Dozer merupakan traktor yang dipasangkan blade dibagian depannya. Blade berfungsi untuk mendorong, atau memotong material yang ada didepannya. Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah.

ü MOTOR GRADE
Motor Grader adalah salah satu jenis traktor dengan fungsi sebagai perata bentuk permukaan tanah, biasanya digunakan dalam proyek jalan untuk membuat kemiringan tertentu suatu ruas jalan. Dengan blade yang dapat diatur tingkat kemiringannya.

ü EXCAVATOR
Excavator, backhoe atau shovel adalah suatu alat berat yang diperuntukkan memindahkan suatu material, sehingga dapat meringankan pekerjaan yang berat apabila dilakukan dengan tenaga manusia.


ü LOADER
Adalah mesin yang digunakan untuk memindahkan tanah yang sudah dikumpulkan buldozer ke dump truck. Loader memiliki bentuk yang hampir mirip dengan bulldozer namun bucket loader dapat diangkat dengan ketinggian tertentu dan digunakan sebagai alat pemuat. Loader dapat digunakan untuk material tanah yang telah terurai atau tidak keras.
ü TRUK
Merupakan alat berat yang berfungsi untuk memindahkan material – material dalam jumlah yang banyak. Ada berbagai jenis truk yang ada di alam semesta ini misalnya dump truck, articulated dump truck, off highway truck.
ü TIANG PANCANG
Proyek-proyek besar seperti gedung pencakar langit memerlukan fondasi yang kuat untuk menyangga beban yang besar di atasnya. Jika daya dukung tanah dilokasi tidak memungkinkan untuk menahan beban yang besar,, fondasi semacam ini sangat diperlukan. Bentuk dari pondasi yang umum dipakai sebagai penyangga bangunan adalah pondasi tiang.

ü DOUBLE DRUM ROLLER
Double Drum Roller terdiri atas berporos 2 (two axle) dan berporos 3 (three axle tandem rollers). Penggunaan dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus, misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Tandem roller ini memberikan lintasan yang sama pada masing-masing rodanya, beratnya antara 8-14 ton, penambahan berat yang diakibatkan oleh pengisian zat cair (ballasting) berkisar antara 25% - 60% dari berat penggilas.

ü PNEUMATIC TIRED ROLLER
Pneumatic Tired Roller Roda-roda penggilas jenis ini terdiri atas rodaroda ban karet yang dipompa (pneumatic). Susunan dari roda muka dan roda belakang selang-seling sehingga bagian yang tidak tergilas oleh roda bagian depan akan digilas oleh roda bagian belakang. Roda-roda ini menghasilkan "kneading action" (tekanan) terhadap tanah sehingga membantu konsolidasi tanah. Tekanan yang diberikan oleh roda terhadap permukaan tanah dapat diatur dengan cara mengubah tekanan ban. Makin besar tekanan ban, makin besar pula tekanan yang terjadi pada tanah.

ü ASPHALT FINISHER
Asphalt finisher adalah alat untuk menghamparkan campuran aspal yang dihasilkan dari alat produksi aspal.

ü TOWER CRANE
Pada prinsipnya , tower crane merupakan pesawat pengangkat dan pengangkut yang memiliki mekanisme gerakan yang cukup lengkap, yakni : kemampuan mengangkat muatan (lifting)menggeser (trolleying), menahannya tetap di atas bila diperlukan dan membawa muatan ke tempat yang ditentukan (slewing dan travelling). Operasi kerja yang identik dan muatan yang seragam yang diangkutnya, memungkinkan fasilitas transport dilakukan secara otomatis. Bukan hanya untuk memindahkan, melainkan juga untuk proses bongkar muatan.

2.     Perbedaan dan persamaan fungsi alat bulldozer dan motor grader:
BULLDOZER
Bulldozer adalah jenis peralatan konstruksi (biasa disebut alat berat atau construction equipment) bertipe traktor menggunakan Track/ rantai serta dilengkapi dengan pisau (dikenal dengan blade) yang terletak di depan. Bulldozer diaplikasikan untuk pekerjaan menggali, mendorong dan menarik material (tanah, pasir, dsb).
ü Membuka jalan baru pada area pegunungan dan daerah – daerah berbatu.
ü Sebagai alat angkut jarak pendek, misalnya memindahkan tanah sejauh 300 ft.
ü Menarik scraper
ü Menghamparkan tanah irisan
ü Menumbung kembali trencher
ü Sebagai alat untuk pemeliharaan jalan kerja
ü Sebagai alat gali, alat angkut, dan alat dorong.




MOTOR GRADER
Motor grader adalah alat berat yang digunakan untuk meratakan jalan, membentuk jalan (grading) yang dibiasa digunakan dalam proyek pembangunan jalan. Motor grader merupakan salah satu alat berat yang sangat penting untuk konstruksi jalan. Grader juga dapat digunakan untuk pengupasan lapisan atas yang hendak dibuang, atau dikurangi, mencampur material dan meratakan/ menyebarkannya lagi. Meratakan area dengan grader sangat diperlukan untuk pemadatan yang sempurna oleh compactor.

ü Meratakan dan membentuk permukaan.
ü Merawat jalan.
ü Mengupas tanah.
ü Menyebarkan material ringan





3.     Cara kerja Bulldozer:
ü Masukan kunci kedalam kontak kunci dan putar ke kanan untuk menghidupkan mesin.
ü Cari tuas kontrol transmisi, biasanya ada di sisi kiri kursi pengemudi. Dorong kedepan untuk mengubah transmisi ke forward atau tarik kembali untuk merubah transmisi ke reverse.
ü Sesuaikan gigi transmisi dengan kecepatan yang dikehendaki
ü Kontrol blade dengan blade controller yang biasanya terlatak pada sisi kanan kursi pengemudi. Dorong kontroler kedepan untuk menurunkan blade atau tarik untuk menaikan blade.
Secara umum itulah cara kerja buldozer. Namun ada satu hal yang perlu dihindari saat menggunakan buldozer. Hindari bekerja dalam keadaan miring kesamping secara terus menerus. Hal ini dikarenakan bekerja dengan keadaan miring ke kiri akan memberikan beban kepada deretan roller pada bagian kiri yang dampaknya merusak roller sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya.
Cara kerja buldozer memang terlihat mudah secara teori, namun sebenarnya cukup sulit untuk dilakukan. Dibutuhkan latihan khusus dengan orang yang lebih ahli sebelum menjalankan alat berat ini.  Melihat bentuk buldozer yang sangat besar serta blade pada buldozer yang dapat memotong material, sehingga disarankan untuk tidak asal coba – coba apabila tidak memilki keahlian menjalankan buldozer.
4.     Cara kerja Exavator
Bagian Dasar Alat Kontrol Excavator :
a.   Tuas / Panel di sebelah Kanan : Untuk mengoperasikan bucket dan boom
ü Jika tuas didorong ke depan maka akan menurunkan boom
ü Jika tuas ditarik ke belakang maka akan menaikan boom
ü Jika tuas digeser ke kiri maka akan menutup bucket
ü Jika tuas digeser ke kanan maka akan membuka bucket
b.   Tuas / Panel di Sebelah Kiri : Untuk mengoperasikan arah kabin dan arm
ü Jika tuas didorong ke depan maka akan menurunkan arm
ü Jika tuas ditarik ke belakang maka akan menaikan arm
ü Jika tuas digeser ke kiri maka akan menggeser kabin ke kiri
ü Jika tuas digeser ke kanan maka akan menggeser kabin ke kanan
c.   Lock / Shut-Off Lever (biasanya berada di paling kiri) : Untuk mengunci tuas / panel excavator
ü Jika tuas ditarik ke atas maka akan mengunci seluruh kegiatan excavator
ü Jika tuas didorong ke bawah maka excavator dapat dioperasikan kembali
d.   Tuas / Pedal Track kiri dan kanan (berada di depan) : Untuk maju / mundur dan belok track excavator
ü Jika kedua tuas ditarik bersamaan ke belakang maka excavator akan maju
ü Jika kedua tuas ditarik bersamaan ke depan maka excavator akan mundur
ü Jika tuas kanan ditarik ke belakang maka excavator akan belok ke kiri
ü Jika tuas kiri ditarik ke belakang maka excavator akan belok ke kanan

5.     Perbedaan fungsi alat berat  Dum truk dengan Trailer:
DUM TRUK
Dump Truck berfunsi sebagai alat angkut material-material bangunan (tanah, besi tulangan, semen, batu bata, dll)

TRAILER
Trailer berfungsi juga sebagai alat angkut, namun dengan kapasitas dan berat diatas dump truck. Misalnya, sebagai alat angkut alat berat.

















SOAL DAN PEMBAHASAN PEMINDAHAN TANAH MEKANIK

Jumat, 10 Februari 2017

CARA-CARA MENJADI YOUTUBER TERKENAL

CARA-CARA MENJADI YOUTUBER TERKENAL

Di jaman modern seperti sekarang ini, pilihan menjadi seorang youtuber merupakan solusi yang sangat cocok diiringi perkembangan bidang teknologi yang sangat canggi. Namun sekarang banyak youtuber yang bermunculan tetapi tidak berhasil dalam karirnya tersebut.
Jika ingin memulai karir sebagai seorang  youtuber kita harus memiliki cara yang jitu agar menjadi sukses.Berikut tips-tip agar menjadi youtuber sukses:

·         Mencari audiens/ penonton

Jika kita telah menguplod sebuah video di youtube, kita membutuhkan orang yang melihat atau mentonton video kita.Caranya dengan membagikan video tersebut di media sosial lain seperti facebook,twitter, ataupun instagaram.Ini merupakan cara agar teman teman kita di medsos tersebut dapat melihat video yang kita upload.

·         Bangunlah subcriber

Memiliki subcriber merupakan awal dari kesuksesan anda, karena jika anda mengupload video mereka akan mengetahuinya lewat email.Mereka mungkin akan menjadi penoton setia untuk setipa video yang anda uplod.
Agar anda chanel anda memiliki subcriber yang banyak, anda harus menentukan apakah video anda sebagai video entertaimant (sekedar hiburan, kesenangan ataupun inspirasi)atau education(mendidik, sesuatu yang perlu di pelajari,fakta).Disarankan anda agar memfokuskan pada salah satu pilihan tersebut agar bisa mengetahui apa yang akan di sajikan buat para penonton.namun jika anda mampu menggabungkan dua pilihan tersebut akan menjadi lebih baik. Karena di samping menghibur tetapi mampu memberikan nilai lebih yaitu mendidik.Semuanya tergantung anda, karena pilihan andalah yang menentukan karir anda sendiri.

·         Mampu membuat video yang mengundang banyak penonton

Hal yang paling penting adalah video anda banyak di tonton orang. Anda harus jeli dalam memilih video yang anda upload.Biasanya  seputar berita atau sesuatu  yang masi tren bahkan viral di masyarakat.Ataupun anda mampu membuat video anda menjadi viral tetapi harus bernilai positif atau bermanfaat.

·         Kolaborasi dengan youtuber lain

Jika memungkinkan lakukan colab/kolaborasi dengan youtuber lain, tidak apa-apa walaupun mereka tidak memiliki banyak subscriber atau bahkan zero subs, tujuan utama kolaborasi adalah mutualisme dalam sebuah konten, tentu akan jauh lebih cepat jika Anda bisa berkolaborasi dengan youtuber yang lebih terkenal, namun pada intinya sebuah kolaborasi bertujuan untuk memperkaya konten/video yang secara tidak langsung juga berpotensi membawa subscriber-subscriber baru.

·         Membalas komentar para penonton

Anda harus berusaha agar komentar para penoton agar mereka juga merasa dihargai oleh anda.

·         Menerima masukan dari para subcriber

Jika anda mendapat kritik atapun saran dari para subcribe, anda harus menerimanya dengan baik.Karena setiap masukan yang mereka berikan akan membuat anda mengetahui kekurangan kekurangan vedeo terbut membuat anda lebih bagus dalam membuat video video berikutnya.



Kamis, 09 Februari 2017

KANDUNGAN DAN BAHAYA ROKOK ELEKTRIK(VAPE)

KANDUNGAN DAN BAHAYA ROKOK ELEKTRIK(VAPE)

Sekilas tentang rokok elektrik(vape)
Vape atau rokok elektrik adalah salah satu jenis dari penghantar nikotin elektronik. Rokok elektrik dirancang untuk membantu pecandu rokok tembakau mulai berhenti merokok. Dengan beralih dari rokok tembakau ke rokok elektrik, secara perlahan mereka belajar untuk berhenti merokok.
Rokok elektrik terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran, tetapi terdapat tiga komponen utama dalam rokok elektrik, yaitu baterai, elemen pemanas, dan tabung yang berisi cairan (cartridge). Cairan dalam tabung ini mengandung nikotin, propilen glikol atau gliserin, serta penambah rasa, seperti rasa buah-buahan dan cokelat. Beberapa rokok elektrik memiliki baterai dan cartridge yang dapat diisi ulang.
Rokok elektrik bekerja dengan cara memanaskan cairan yang ada dalam tabung dan kemudian menghasilkan uap seperti asap yang umumnya mengandung berbagai zat kimia. Pengguna menghisap zat kimia ini langsung dari corongnya.

Zat yang terkandung dalam vape
Dalam cairan rokok elektrik mengandung propilen glikol atau gliserin, nikotin, dan penambah rasa.
  • ·         Propilen glikol atau gliserin berfungsi untuk memproduksi uap air. Penelitian menunjukkan bahwa menghirup propilen glikol dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan pada beberapa individu.
  • ·         Nikotin ditemukan dalam konsentrasi yang berbeda-beda, antara 0-100 mg/ml dalam satu rokok elektrik.
  • ·         Penambah rasa, seperti rasa cokelat, vanila, buah-buahan, dan lainnya, sehingga perokok elektrik dapat menikmati sensasi rasa tertentu dalam setiap hisapannya..
  • ·         Komponen lainnya yaitu tobacco-specific nitrosamine (TSNA). TSNA merupakan senyawa karsinogen yang ditemukan dalam tembakau dan rokok tembakau. Nitrosamin dalam jumlah sedikit ditemukan dalam cairan rokok elektrik. Semakin tinggi kadar nikotin, semakin tinggi juga kadar TSNA. Selain TSNA, juga ditemukan kandungan senyawa logam, seperti kromium, nikel, dan timah.

Bahaya yang diakibatkan jika menggunakan vape
Berdasarkan data yang diperoleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, beberapa penelitian menunjukkan bahwa:
  • ·         Nikotin dalam rokok elektrik diserap oleh tubuh penggunanya dan orang-orang di sekitarnya.
  • ·         Nikotin sangat berbahaya bagi pengguna rokok elektrik yang masih muda karena berdampak negatif bagi perkembangan otak.
  • ·      Nikotin sangat membahayakan kesehatan wanita hamil dan janin yang ada dalam kandungannya. Menggunakan rokok elektrik atau bahkan hanya berada di sekitar orang yang menggunakan rokok elektrik dapat membuat wanita hamil terpapar nikotin dan zat kimia beracun lainnya yang ada dalam rokok elektrik.
  • ·         Uap yang dihasilkan dari rokok elektronik bukan merupakan uap air. Ini mengandung nikotin dan dapat mengandung zat kimia lainnya yang dapat mengganggu kesehatan dan mencemari udara.
  • ·         Uap yang dihasilkan rokok elektrik dan cairan yang ada dalam rokok elektrik berbahaya. Anak-anak dan orang dewasa dapat keracunan karena menelan, menghirup, atau menyerap cairan tersebut melalui kulit atau mata.
  • ·         Bahan kimia tambahan yang berbahaya atau mungkin berbahaya telah ditemukan pada beberapa rokok elektrik. Bahan kimia ini, seperti yang mengandung logam, senyawa organik yang mudah menguap, dan nitrosamin. Kadar ini cenderung lebih rendah daripada rokok tembakau, tetapi tidak ada cara untuk mengetahui seberapa besar kandungan berbahaya dari rokok elektrik karena belum diatur.