1. Syarat-syarat(pertimbangan) Perencanaan Jembatan yang Layak
1. KekuatanUnsur Struktural dan Stabilitas Keseluruhan
Struktur harus mempunyai kekuatan memadai untuk menahan beban pada
kondisi ultimate dan struktur sebagai satu kesatuan harus stabil pada pembebanan
tersebut
2. Kelayakan Struktural
Bangunan bawah dan pondasi harus berada dalam keadaan layak pada beban
batas beban layan. Hal ini berarti struktur tidak boleh mengalami retakan,
lendutan atau getaran sedemekian sehingga masyarakat menjadi khawatir atau
jembatan menjadi tidak layak untuk penggunaan atau mempunyai pengurangan
berarti dalam umur kelayanan
3. Keawetan
Bahan yang dipilih harus sesuai untuk lingkungan, missal jembatan rangka baja
yang di galvanisasi tidak merupakan bahan terbaik untuk penggunaan di dalam
lingkungan laut agresif garam yang dekat pantai
4. Kemudahan Konstruksi
Pemilhan rencana harus mudah dilaksanakan, rencana yang sulit akan dapat
menyebabkan waktu pengerjaan yang lama dan peningkatan biaya, sehingga
harus di hindari sedapat mungkin.
5. Ekonomis dapat diterima
Rencana termurah yang sesuai pendanaan dan pokok-pokok rencana lainnya
umumnya yang dipilih. Penekanan harus di berikan pada biaya umur total
struktur yang mencakup biaya pemeliharaan dan tidak hanya biaya permulaan
konstruksi.
6. Estetika
Struktur jembatan harus menyatu dengan pemandangan alam dan menyenangkan
untuk dilihat.
2. Peraturan-peraturan Legal Dalam Perencanaan Jembatan
a. Peraturan dan Standar
· BMS 92 : Bridge Management System, 1992
· BMS 93 : Lampiran A dan Penjelasan Bag 1 sd. 9
· BMS 93 : Panduan Pengawasan dan Pelaksanaan jembatan
· Guidelines for the Installation, Inspection, Maintenance and Repair of Structural Supports for Highway Signs, Luminaires and Traffic Signals, FHWA NHI 05-036, March 2005
· Modifikasi Jembatan Bailey dengan Cara Perkuatan Cable
· Panduan Pengawasan dan Pelaksanaan Jembatan
· Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan - Persyaratan Tahan Gempa
· Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan
· RSNI T-02-2005 : Standar Pembebanan Untuk Jembatan
· RSNI T-03-2005 : Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan
· RSNI T-04-2005 : Perencanaan Struktur Beton Untuk Jembatan
· Spesifikasi Bantalan Elastomer Tipe Polos dan Tipe Berlapis untuk Perletakan Jembatan
· Spesifikasi Pilar dan Kepala Jembatan Sederhana Bentang 5 m sampai 25 m dengan Fondasi Tiang Pancang
· Standar Jembatan Bina Marga
· Standar Pembebanan Untuk Jembatan Jalan Raya
· Standar Perencanaan Gempa Untuk Jembatan
. VSL-Indonesia
b. Slab On Grade
· Pedoman Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen
· Petunjuk Pelaksanaan Perkerasan Kaku (Beton Semen)
· Pelaksanaan Perkerasan Jalan Beton Semen
c. Reference
· FEMA : Federal Emergency Management Agency
· Precast Segmental Box Girder Bridges With External Prestressing, Design and Construction
· Preliminary Design of Precat Prestressed Concrete Box Girder Bridges
· Comprehensive Design Example for Prestressed Concrete (PSC) Girder Superstructure Bridge, FHWA
· LRFD Design Example for Steel Superstructure Bridge, FHWA
· Extending Span Rougs of Precast Prestressed Concrete Girder, NHCRP
· Connection of Simple Span Precast Concrete Girder for Continuity, NCHRP
· Concrete Box-Girder Bridges, IABSE
d. Brosur
· Tabel Konstruksi Baja
· Precast Wall-Sheet Pile Adhi Karya
· Precast Slab Adhi Karya
· Precast Pile - 2 Adhi Karya
· Precast Pile - 1 Adhi Karya
· Precast Girder Wika
· Precast Girder Adhi Karya
e. Literatur
· Buku Pedoman Perencanaan Struktur Baja (Structural Steel Designer's Handbook)
3. Bagian-bagian Dari Konstruksi Jembatan
Bangunan Atas (super struktur), yang terdiri atas:
a. Gelagar-gelagar utama (rangka utama), yang terbentang dari titik tumpu ke titik tumpu lain. Gelagar-gelagar ini terdiri dari batang diagonal, horizontal dan vertical yang membentuk rangka utama dan terletak pada kedua sisi jembatan.
b. Gelagar melintang, berupa baja profil yang terletak di bawah lantai kendaraan, gunanya sebagai pemikul lantai kendaraan.
c. Lantai kendaraan, terletak di atas gelagar melintang, biasanya terbuat dari kayu atau pasangan beton bertulang dan seluruh lebar bagiannya digunakan untuk lalulintas kendaraan.
d. Lantai trotoar, terletak di pinggir sepanjang lantai kendaraan dan digunakan sebagai tempat pejalan kaki.
e. Pipa sandaran, terbuat dari baja yang dipasang diantara tiang-tiang sandaran di pinggir sepanjang jembatan atau tepi lantai trotoar dan merupakan pembatas dari kedua sisi samping jembatan.
f. Tiang sandaran, terbuat dari beton bertulang atau baja profil dan ada juga yang langsung dipasang pada rangka utama, gunanya untuk menahan pipa sandaran.
Bangunan bawah (sub structure), yang terdiri dari:
a. Pilar, berfungsi untuk menyalurkan gaya-gaya vertical dan horizontal dari bangunan atas pada pondasi.
b. Pangkal (abutment), pangkal menyalurkan gaya vertical dan horizontal dari bangunan atas pada pondasi dengan fungsi tambahan untuk mengadakan peralihan tumpuan dari timbunan jalan pendekat ke bangunan atas jembatan.
Ada beberapa tipe dan jenis abutment, yaitu:
1. Tipe gravitasi, kontruksi terbuat dari pasangan batu kali. Digunakan bila tanah keras dekat dengan permukaan.
2. Tipe T terbalik (kantilever), kontruksi terbuat dari beton bertulang, bentuknya langsing sehingga dalam proses pembuatannya sangat mudah dari pada tipe-tipe yang lain.
3. Tipe dengan penopang, bentuknya kontruksinya sama dengan tipe kantilever tetapi ditambahkan penopang dibelakangnya, yang berguna untuk melawan pengaruh tekanan tanah dan gaya angkat (bouyvancy).
4. Bentuk-bentuk Jembatan
a. Jembatan kayu gelondongan
Jembatan kayu gelondongan adalah jembatan yang terjadi karena ada pohon yang tumbang dan secara kebetulan memotong suatu sungai sehingga dapat digunakan sebagai jembatan, tetapi dapat juga dengan sengaja direncanakan membangun jembatan yang terbuat dari kaya gelondongan.
b. Jembatan busur
Merupakan jembatan yang sudah dikenal zaman romawi yang dibangun dengan susunan batu yang diatur sedemikian sehingga beban lalulintas maupun jembatan itu sendiri yang dipikul pada jembatan didistribusikan dengan baik pada kedua sisi abatemen jembatan, untuk jembatan yang panjang digunakan lebih dari dua busur. Konsep ini kemudian dikembangkan pada pembangunan jembatan modern dengan menggunakan rangka baja atau pun dari beton.
c. Jembatan balok
Merupakan jembatan yang paling sederhana kalau ditinjau dari bentuk struktural karena didukung oleh penyangga/ubutment awal dan akhir dari dek jembatan, disebut juga sebagai beam bridge. Konsep ini pada awalnya dikembangkan dua batang pohon (terbasuk batang kelapa) yang dipasangin lantai. yang kemudian dikembangkan dengan menggunakan balok beton pracetak ataupun menggunakan girder baja profil atau pun kotak (box girder).
d. Jembatan kerangka
Merupakan jembatan yang konsepnya hampir sama dengan jembatan lengkung disebut juga sebagai truss bridge. Pembuatan jembatan kerangka yaitu dengan menyusun tiang-tiang jembatan membentuk kisi-kisi agar setiap tiang hanya menampung sebagian berat struktur jembatan tersebut. Membutuhkan biaya yang lebih murah untuk membangun jembatan jenis ini karena penggunaan bahan yang lebih efisien.
e. Jembatan gantung
Jembatan gantung atau dikenal sebagai Suspension Bridge merupakan digantungkan dengan menggunakan tali untuk jembatan gantung yang sangat sederhana dan kabel baja pada jembatan gantung besar. Pada jembatan gantung modern, kabel menggantung dari menara jembatan kemudian melekat pada caisson (alat berbentuk peti terbalik yang digunakan untuk menambatkan kabel di dalam air) atau cofferdam (ruangan di air yang dikeringkan untuk pembangunan dasar jembatan). Caisson atau cofferdam akan ditanamkan jauh ke dalam lantai danau atau sungai.
f. Jembatan kabel penahan
Seperti jembatan gantung, jembatan ini ditahan oleh kabel disebut juga sebagai Cable-Stayed Bridge. Bedanya, selain jumlah kabel yang dibutuhkan lebih sedikit, jembatan ini memiliki menara penahan kabel yang lebih pendek daripada jembatan gantung. Jembatan kabel penahan terpanjang di dunia saat ini adalah Jembatan Sutong yang melintasi Sungai Yangtze di China. Salah satu contoh jembatan kabel penahan di Indonesia yaitu Jembatan Tenggarong yang runtuh pada bulan Nopember 2011 diakibatkan kesalah prosedur pada saat melakukan perawatan.
g. Jembatan penyangga
Jembatan penyangga atau dikenal sebagai cantilever bridge merupakan jembatan balok disangga oleh tiang penopang dikedua pangkalnya, maka jembatan penyangga hanya ditopang di salah satu pangkalnya. Jembatan penyangga biasanya digunakan untuk mengatasi masalah pembuatan jembatan apabila keadaan tidak memungkinkan untuk menahan beban jembatan dari bawah sewaktu proses pembuatan. Kelebihan jembatan jenis ini adalah tidak mudah bergoyang. Tidak heran mengapa banyak jembatan rel kereta api menggunakan jenis ini.
5. Beban-beban yang Bekerja Dalam Perencanaan Struktur Jembatan
Secara umum beban - beban yang dihitung dalam merencanakan jembatan dibagi atas dua yaitu beban primer dan beban sekunder. Beban primer adalah beban utama dalam perhitungan tegangan untuk setipa perencanaan jembatan, sedangkan beban sekunder adalah beban sementara yang mengakibatkan tegangan - tegangan yang relatif kecil daripada tegangan akibat beban primer dan biasanya tergantung dari bentang, bahan, sistem kontruksi, tipe jembatan dan keadaan setempat. Beban primer jembatan mencakup beban mati, beban hidup dan beban kejut. Sedangkan Beban Sekunder terdiri dari beban angin, gaya rem, dan gaya akibat perbedaan suhu.
Beban Primer
a. Beban mati
Beban mati adalah semua muatan yang berasal dari berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yang ditinjau, termasuk segala unsur tambahan tetap yang dianggap merupakan satu satuan dengan jembatan (Sumantri, 1989). Dalam menentukan besarnya muatan mati harus dipergunakan nilai berat volume untuk bahan&bahan bangunan. Contoh beban mati pada jembatan berat beton, berat aspal, berat baja, berat pasangan bata, berat plesteran dll.
b. Beban hidup
Yang termasuk dengan beban hidup adalah beban yang berasal dari berat kendaraan&kendaraan bergerak lalu lintas dan)atau pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Beban hidup yang ditinjau terdiri dari:
1. Beban Pedestrian / Pejalan Kaki (Tp)
Jembatan jalan raya direncanakan mampu memikul beban hidup merata pada trotoar yang besarnya tergantung pada luas bidang trotoar yang didukungnya
2. Beban Jalur lalu lintas "D" (TD)
Beban kendaraan yg berupa beban lajur "D" terdiri dari beban terbagi merata (Uniformly Distributed Load) , UDL dan beban garis (Knife Edge Load) , UDL mempunyai intensitas q (KPA) yang besarnya tergantung pada panjang total L yang dibebani lalu&lintas.
c. Beban kejut
Menurut Anonim (1987;10) beban kejut diperhitungkan pengaruh getaran&getaran dari pengaruh dinamis lainnya., tegangan & tegangan akibat beban garis (P) harus dikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban terbagi rata (q) dan beban terpusat (T) tidak dikalikan dengan koefisien kejut.
Beban Sekunder
a. Beban Gaya Rem (TB)
Pengaruh pengereman dari lalu-lintas diperhitungkan sebagai gaya dalam arah memanjang dan dianggap bekerja pada permukaan lantai jembatan.
b. Gaya Akibat Perbedaan Suhu (ET)
Untuk memperhitungkan tegangan maupun deformasi struktur yang timbul akibat pengaruh temperatur, diambil perbedaan temperatur yang besarnya setengah dari selisih antara temperatur maksimum dan temperatur minimum rata-rata pada lantai jembatan.
c. Beban Gempa (EQ)
Beban gempa yang diperhitungkan pada perencanaan yaitu Beban Gempa Statik Ekuivalen.
d. Beban Angin (EW)
Angin Yang Meniup Bidang Samping Jembatan
Gaya akibat angin yang meniup bidang samping jembatan dihitung dengan rumus:
TEW1 = 0.0006*Cw*(Vw)2*Ab kN
Dimana:
Cw = koefisien seret Cw = 1,25
Vw = Kecepatan angin rencana (m/det) Vw = 35,00 m/det
Ab = luas bidang samping jembatan (m2)
Angin Yang Meniup Kendaraan
Gaya angin tambahan arah horizontal pada permukaan lantai jembatan akibat beban angin yang meniup kendaraan di atas lantai jembatan dihitung dengan rumus :
TEW2 = 0.0012*Cw*(Vw)2 * L / 2
dengan,
Cw = 1,20
Nama: Adrianus Jonbosi Endong
Kelas: 3TA05
NPM: 10316264
Nama dosen : I Kadek Bagus Widana Putra
Hyperlink 1 : https://ftsp.gunadarma.ac.id/sipil/
Hyperlink 2 : https://www.gunadarma.ac.id/
Senin, 18 Maret 2019
Rabu, 23 Januari 2019
MAKALAH KEMACETAN LALU LINTAS DAN SOLUSI MENGATASINYA
KEMACETAN
LALU LINTAS DAN SOLUSI MENGATASINYA
DISUSUN
OLEH:
NAMA : ADRIANUS JONBOSI ENDONG
NPM :
10316264
KELAS :
3TA05
JURUSAN
TEKNIK SIPIL
FAKULTAS
TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS
GUNADARMA
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga
penulisan makalah ini dapat di selesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Penulis
juga mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses pembuatan makalah ini. Semoga makalah dengan judul KEMACETAN LALU LINTAS
DAN SOLUSI MENGATASINYA dapat bermanfaat baik bagi masyarakat pada umumnya dan
dapat menjadi acuan bagi penulis lain. Penulis yakin masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman.
Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Lalu
lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, oleh
karena itu lalu lintas merupakan salah satu masalah penting. Apabila arus lalu
lintas terganggu atau terjadi kemacetan, maka mobilitas masyarakat juga akan
mengalami gangguan. Gangguan-gangguan ini akan berdampak negatif pada
masyarakat. Masalah lalu lintas merupakan suatu masalah sulit yang harus
dipecahkan bersama dan sangat penting untuk segera diselesaikan. Apabila
masalah lalu lintas tidak terpecahkan, maka semua kerugian yang timbul akibat
masalah ini akan ditanggung oleh masyarakat itu sendiri, dan apabila masalah
ini dapat terpecahkan dengan baik, maka masyarakat sendiri yang akan
mendapatkan manfaatnya. Sebagai salah satu negara sedang berkembang, Indonesia
seperti negara sedang berkembang lainnya mengalami permasalahan-permasalahan
lebih kompleks dibandingkan dengan negara-negara maju, mulai dari pertumbuhan
penduduk yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga kurangnya sarana dan prasarana
yang menunjang pembangunan itu sendiri. Kemacetan atau kongesti adalah salah satu
diantaranya.
2.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah
yang akan dibahas, antara lain sebagai berikut:
1.
Apa penyebab kemacetan lalu lintas di
Indonesia?
2.
Apa dampak yang ditimbulkan kemacetan
lalu lintas bagi masyarakat?
3.
Bagaimana solusi untuk mengatasi kemacetan
lalu lintas di Indonesia?
3. Tujuan
1.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang
menyebabkan kemacetan lalu lintas di Indonesia.
2. Untuk mengetahui dampak-dampak yang
ditimbulkan akibat kemacetan lalu lintas bagi masyarakat.
3. Untuk menemukan solusi yang dapat
mengatasi kemacetan lalu lintas di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas
adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas
yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.
Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai
transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya
kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta. Kemacetan lalu lintas
menjadi permasalahan sehari-hari ditemukan di Pasar, Sekolah, Terminal bus
(seperti kejadian ngetem sembarangan, kebakaran di pemukiman, dll), Lampu merah
dan Persimpangan jalan raya maupun rel kereta api.
B.
Penyebab
Kemacetan Lalu Lintas
Terdapat beberapa
faktor yang dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas, antara lain sebagai
berikut:
1.
Arus kendaraan yang melewati jalan telah
melampaui kapasitas jalan tersebut.
2. Terjadinya kecelakaan lalu lintas di
jalan tersebut sehingga menimbulkan rasa ingin tahu warga yang menyebabkan
warga berkerumun memadati jalan atau kendaraan yang terlibat kecelakaan yang
belum dibersihkan atau disingkirkan dari badan jalan.
3. Terjadinya banjir yang merendam badan
jalan sehingga para pengendara memperlambat laju kendaraannya.
4. Adanya perbaikan jalan.
5. Kepanikan untuk mengevakuasi diri ke
tempat yang lebih aman akibat peringatan akan terjadinya bencana alam seperti
tsunami, tanah longsor, banjir dan lainnya.
6.
Adanya bagian jalan yang rusak atau
longsor.
7.
Ketidaktahuan masyarakat akan aturan
lalu lintas.
8.
Parkir kendaraan yang tidak tertata baik
atau tidak pada tempatnya.
9. Pasar tumpah yang secara tidak langsung
memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap
sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.
10. Pengaturan
lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus
lalu lintas.
Penyebab kemacetan yang sering terjadi di ibu
kota(DKI Jakarta), antara lain:
1. Ruas jalan jauh di bawah kebutuhan
normal yang seharusnya 20 persen dari total luas kota.Saat ini, lahan jalan
Jakarta hanya 6,2 persen saja dari total lahan.
2. Moda angkutan umum belum sesuai dengan
kebutuhan di kota besar. Angkutan umum utama di Jakarta harusnya berupa bus dan
kereta yang bisa mengangkut penumpang dalam jumlah besar.
3. Minimnya jembatan penyeberangan orang
atau terowongan penyeberangan orang. Sehingga orang kerap kali menyeberang
beramai-ramai saat arus lalu lintas sedang tinggi. Ini tentu menghambat laju
kendaraan.
4.
Banyaknya persimpangan jalan yang belum
memiliki bangunan fly over maupun underpass.
5.
Angka urbanisasi dan pertumbuhan
penduduk di Jakarta sangat tinggi.
6.
Banyaknya titik bottleneck, seperti di pintu-pintu masuk jalan tol.
7.
Kurangnya angkutan massal seperti bus
dan kereta.
8.
Buruknya tata ruang dan kesalahan
pemberian ijin bangunan seperti mall dan ruko.
C.
Dampak
Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas
sangatlah tidak disukai oleh semua masyarakat, karena kemacetan dapat
menyebabkan banyak kerugian terhadap para pengguna jalan. Dampak kemacetan lalu
lintas antara lain adalah pemborosan BBM, pemborosan waktu serta menimbulkan
polusi udara. Pemborosann BBM terjadi karena kemacetan menyebabkan kendaraan
menjadi terhambat sehingga terjadi pembakaran yang tidak efektif. Selain
pemborosan BBM, bila terjadi kemacetan tentu kita juga akan rugi waktu.
Misalnya jarak 60 km bisa kita tempuh hanya dengan waktu 1 jam, maka bila
terjadi kemacetan dengan waktu yang sama mungkin kita hanya dapat menempuh
jarak 10-20 km saja. Jadi, dampak yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas
sangat banyak. Selain waktu dan biaya, kemacetan lalu lintas juga dapat
menyebabkan stress dan menimbulkan emosi. Akibatnya pekerjaan pun menjadi
terganggu. Kadang-kadang akibat terburu-buru akan terjadi kecelakaan yang dapat
mengancam nyawa para pengguna jalan.
Kemacetan juga
menyebabkan laju kendaraan menjadi lambat dan pembakaran pun menjadi lama,
pembakaran yang lama akan menghasilkan karbondioksida sehingga akan menimbulkan
polusi udara yanng semakin banyak. Karbondioksida mengandung racun yang dapat
mengganggu kesehatan masyarakat sehingga produktivitas menurun. Bila
produktivitas menurun maka perekonomian juga akan terganggu. Selain itu,
kemacetan juga dapat mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans
dan pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya. Jadi dampak yang diakibatkan
oleh kemacetan lalu lintas sangat luas, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi
hingga produktivitas kerja.
Dapat disimpulkan
kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan dampak-dampak negatif, antara lain:
1.
Kerugian waktu, karena kecepatan yang
rendah.
2.
Pemborosan energi.
3.
Keausan kendaraan lebih tinggi, karena
waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan
baik dan penggunaan rem yang lebih sering.
4. Meningkatkan polusi udara, karena pada
kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada
kondisi yang optimal.
5.
Meningkatkan stress pengguna jalan.
6. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat
seperti: ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya.
D.
Solusi
Permasalahan Kemacetan Lalu Lintas
Untuk mengatasi
kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas kendaraan bermotor perlu ditempuh
berbagai upaya(program aksi), utamanya:
1.
Menerapkan manajemen lalu lintas(traffic
management) yang tepat dan efektif. Manajemen lalu lintas bertujuan untuk
keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Manajemen lalu
lintas meliputi:
a.
Kegiatan perencanaan lalu lintas
Kegiatan perencanaan
lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi
antara lain untuk mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan
persimpangan. Maksud tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan
kemampuan ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap
memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.
b.
Kegiatan pengaturan lalu lintas
Kegiatan pengaturan
lalu lintas meliputi: penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan
minimum dan maximum, larangan atau perintah penggunaan jalan bagi pemakai
jalan.
2. Menyediakan dan mengoperasikan angkutan
massal/umum perkotaan yang berkapasitas mencukupi dan dikelola secara
profesional.
3. Membangun ketersediaan prasarana
perkotaan yang berkapasitas yang mampu melayani lalu lintas secara lancar.
4. Menerapkan strategi kebijakan transportasi
perkotaan yang komprehensif, akomodatif dan berwawasan masa depan.
Terdapat beberapa
langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas
yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya
meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Peningkatan kapasitas jalan
Salah satu langkah yang
penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas
jalan/parasarana seperti:
a. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu
lintas sepanjang hal itu memungkinkan.
b. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi
jalan satu arah.
c. Mengurangi konflik di persimpangan melalui
pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok
kanan.
d. Meningkatkan kapasitas persimpangan
melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover.
e.
Mengembangkan inteligent transport sistem.
2.
Keberpihakan kepada angkutan umum
Untuk meningkatkan daya
dukung jaringan jalan maka dioptimalkan angkutan yang efisien dalam penggunaan
ruang jalan, antara lain:
a. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan
umum.
b. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus
ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai busway.
c. Pengembangan kereta api kota, yang
dikenal sebagai Metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura.
d. Subsidi langsung seperti yang diterapkan
pada angkutan kota di Trans Jakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak
langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan
umum.
3.
Pembatasan kendaraan pribadi
Langkah ini biasanya
tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen
lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:
a. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi
menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di
Jakarta melalui Electronic Road Pricing
(ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk
lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan
tarif parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun
pembatasan penyediaan ruang parkir di kawasan yang akan dibatasi lalu
lintasnya.
b. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi
melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak
kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
c. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki
kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai
kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol,
pembatasan mobil pribadi masuk jalur
busway.
Ada juga solusi yang
lain, dengan melibatkan peran pemerintah dan masyarakat, yaitu:
1.
Peran Pemerintah
Urbanisasi dan angka
kelahiran yang tinggi menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi tidak
terkendali. Berarti pemerintah harus membatasi laju urbanisasi dan menekan
angka kelahiran dengan cara menjalankan program keluarga berencana. Bila
pemerintah berhasil menangani laju urbanisasi dan angka kelahiran, maka jumlah
pengguna jalan juga akan terkendali. Untuk mencegah semakin parahnya keadaan
lalu lintas, pemerintah perlu megupayakan mengurangi penggunaan kendaraan
pribadi dan memaksimalkan kendaraan umum, selain membangun ruas jalan baru,
pemerintah juga harus menetapkan batas kecepatan suatu kendaraan untuk
meminimalisasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat menyebabkan
kemacetan. Disamping itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki jalan yang
rusak, memperlebar jalan, menambah jembatan peyeberangan dan memperbaiki
jembatan penyeberangan yang rusak. Setelah semua itu terlaksana, pemerintah
tetap tidak boleh langsung bersenang-senang, karena mereka juga masih harus
memperbaiki rambu-rambu lalu lintas, memperbaiki lampu lalu lintas serta sebisa
mungkin menjadikan halte agar dapat menjadi lebih aman dan nyaman.
Busway dibuat lebih
efektif dengan menambahkan jumlah armada, sehingga penumpang tidak menunggu
lama dan waktu tempuh menjadi lebih cepat atau lebih singkat. Selain itu
pemerintah harus pula mengoptimalkan kereta api yang telah ada, meningkatkan
pelayanan dan kenyamanannya baik di stasiun maupun di dalam kereta api itu
sendiri, sehingga banyak penggua jalan yang mau berpindah dari kendaraan
pribadi ke kereta api.
Peraturan ditegakkan
sehingga penduduk menjadi lebih disiplin. Apabila ada kendaraan yang bersalah
segera ditilang sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya angkutan umum yang berhenti
bukan di halte, kendaraan yang menerobos lampu merah, motor yang berada di
jalur kanan serta pejalan kaki yang tidak disiplin juga harus didenda agar
mereka merasa jera dengan apa yang telah mereka lakukan. Selain semua itu,
pemerintah juga harus mengajak para pengguna jalan agar beralih dari kendaraan
pribadi ke kendaraan umum.
2.
Peran Masyarakat
Masyarakat sebagai
pengguna jalan juga dapat membantu pemerintah dalam menangani kemacetan lalu
lintas seperti dengan beralih ke angkutan umum yang tersedia dan lebih tertib
berlalu lintas agar para pengguna kendaraan pribadi seharusnya mengikuti aturan
agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Pejalan kaki harus mau
membiasakan diri berjalan di trotoar dan menyeberang di jembatan penyeberangan.
Apabila ingin menggunakan angkutan umum, maka kita harus menghentikan angkutan
tersebut di halte yang telah di sediakan, begitu pula bila ketika hendak turun.
Untuk para supir
hendaknya mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mematuhi rambu-rambu lalu
lintas. Supir angkutan umum tidak berhenti di sembarang tempat. Pada saat
berhenti kendaraan dipinggirkan agar tidak mengganggu kendaraan lain dan jangan
menjadikan perempatan atau pertigaan sebagai terminal. Pedagang kaki lima
sebaiknya tidak berdagang di trotoar karena trotoar merupakan haknya pejalan
kaki, begitu juga pejalan kaki untuk tidak membeli barang-barang di troatoar.
Apabila menggunakan kendaraan pribadi sebaiknya gunakan kendaraan yang kecil
dan jangan mencoba untuk menerobos lampu merah jika terjadi kemacetan lalu
lintas dan jangan menggunakan kendaraan pribadi untuk keperluan yang tidak
penting. Bagi para pengguna sepeda motor gunakanlah selalu jalur kiri dan
dengan kecepatan yang tidak tinggi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Lalu lintas sudah
sedemikian macetnya. Dari tahun ke tahun kemacetan ini diperkirakan akan terus
bertambah sebab pertambahan kendaraan bermotor 11 persen pertahun sedangkan
pertambahan jalan hanya 1 persen pertahun. Dari perbandingan ini kita dapat
membayangkan mengapa kemacetan lalu lintas itu sangat sulit untuk diatasi. Untuk
mengatasi kemacetan yang semakin bertambah bahkan untuk mengatasi terjadinya
kemacetan total, maka seluruh masyarakat dan juga pemerintah harus segera
memikirkan jalan keluarnya dari sekarang. Pemerintah harus bisa mengendalikan
laju urbanisasi dan juga harus dapat menekan angka kelahiran secara serius.
Pemerintah segera membangun jalan satu arah, serta meningkatkan keamanan dan
kenyamanan kereta api, busway dan
angkutan umum lainnya mulai dari sekarang. Selain itu, pemerintah juga
sebaiknya memperbaiki penegakan hukum tentang tata tertib berlalu lintas. Masyarakat
juga dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kemacetan, misalnya dengan
selalu tertib berlalu lintas, meningkatkan kesadaran hukum tentang lalu lintas
serta juga dapat dilakukan dengan cara mematuhi semua peraturan lalu lintas.
Bila semua itu dapat dilakukan dengan baik, mungkin kemacetan lalu lintas akan
sedikit berkurang. Kedisiplinan berlalu lintas para pengguna jalan memang masih
sangat rendah. Hal ini merupakan salah satu masalah penyebab terjadinya
kemacetan lalu lintas. Dan itu sangat merugikan masyarakat karena kemacetan
dapat menyebabkan pemborosan BBM, pemborosan waktu serta dapat menimbulkan
polusi udara.
B.
Saran
Menanggapi berbagai
faktor penyebab kemacetan lalu lintas dan solusinya, penulis menyarankan
beberapa hal, antara lain:
1. Pemerintah sebaiknya meningkatkan
pelayanan angkutan umum, agar masyarakat tertarik untuk berpindah dari
kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2. Melakukan pembatasan usia kendaraan
karena jika kendaraan tersebut sudah terlalu tua, maka kendaraan tersebut
menjadi tidak fungsional lagi.
3. Penegakan hukum yang tegas terhadap
pengguna jalan, pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang melanggar aturan.
4. Aturan yang tegas dan ketat terhadap
arus urbanisasi dengan cara yang lebih optimal, dan hukuman dipertegas apabila
ada yang melanggar.
5. Pemerintah juga sebaiknya memasukkan
pendidikan berlalu lintas dalam lingkup sekolah dasar dan sekolah menengah.
Langganan:
Postingan (Atom)














