Rabu, 23 Januari 2019

MAKALAH KEMACETAN LALU LINTAS DAN SOLUSI MENGATASINYA


KEMACETAN LALU LINTAS DAN SOLUSI MENGATASINYA


DISUSUN OLEH:
NAMA  : ADRIANUS JONBOSI ENDONG
NPM     : 10316264
KELAS : 3TA05








JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulisan makalah ini dapat di selesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Penulis juga mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Semoga makalah dengan judul KEMACETAN LALU LINTAS DAN SOLUSI MENGATASINYA dapat bermanfaat baik bagi masyarakat pada umumnya dan dapat menjadi acuan bagi penulis lain. Penulis yakin masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


  
BAB I
PENDAHULUAN


1.             Latar Belakang
          Lalu lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, oleh karena itu lalu lintas merupakan salah satu masalah penting. Apabila arus lalu lintas terganggu atau terjadi kemacetan, maka mobilitas masyarakat juga akan mengalami gangguan. Gangguan-gangguan ini akan berdampak negatif pada masyarakat. Masalah lalu lintas merupakan suatu masalah sulit yang harus dipecahkan bersama dan sangat penting untuk segera diselesaikan. Apabila masalah lalu lintas tidak terpecahkan, maka semua kerugian yang timbul akibat masalah ini akan ditanggung oleh masyarakat itu sendiri, dan apabila masalah ini dapat terpecahkan dengan baik, maka masyarakat sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya. Sebagai salah satu negara sedang berkembang, Indonesia seperti negara sedang berkembang lainnya mengalami permasalahan-permasalahan lebih kompleks dibandingkan dengan negara-negara maju, mulai dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang pembangunan itu sendiri. Kemacetan atau kongesti adalah salah satu diantaranya.

2.             Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas, antara lain sebagai berikut:
1.      Apa penyebab kemacetan lalu lintas di Indonesia?
2.      Apa dampak yang ditimbulkan kemacetan lalu lintas bagi masyarakat?
3.      Bagaimana solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Indonesia?

3.       Tujuan
1.        Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kemacetan lalu lintas di Indonesia.
2.    Untuk mengetahui dampak-dampak yang ditimbulkan akibat kemacetan lalu lintas bagi   masyarakat.
3.       Untuk menemukan solusi yang dapat mengatasi kemacetan lalu lintas di Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari ditemukan di Pasar, Sekolah, Terminal bus (seperti kejadian ngetem sembarangan, kebakaran di pemukiman, dll), Lampu merah dan Persimpangan jalan raya maupun rel kereta api.

B.       Penyebab Kemacetan Lalu Lintas
Terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas, antara lain sebagai berikut:
1.        Arus kendaraan yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan tersebut.
2.     Terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan tersebut sehingga menimbulkan rasa ingin tahu warga yang menyebabkan warga berkerumun memadati jalan atau kendaraan yang terlibat kecelakaan yang belum dibersihkan atau disingkirkan dari badan jalan.
3.   Terjadinya banjir yang merendam badan jalan sehingga para pengendara memperlambat laju kendaraannya.
4.       Adanya perbaikan jalan.
5.      Kepanikan untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman akibat peringatan akan terjadinya bencana alam seperti tsunami, tanah longsor, banjir dan lainnya.
6.        Adanya bagian jalan yang rusak atau longsor.
7.        Ketidaktahuan masyarakat akan aturan lalu lintas.
8.        Parkir kendaraan yang tidak tertata baik atau tidak pada tempatnya.
9.      Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.
10.    Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas.



Penyebab kemacetan yang sering terjadi di ibu kota(DKI Jakarta), antara lain:
1.     Ruas jalan jauh di bawah kebutuhan normal yang seharusnya 20 persen dari total luas kota.Saat ini, lahan jalan Jakarta hanya 6,2 persen saja dari total lahan.
2.      Moda angkutan umum belum sesuai dengan kebutuhan di kota besar. Angkutan umum utama di Jakarta harusnya berupa bus dan kereta yang bisa mengangkut penumpang dalam jumlah besar.
3.    Minimnya jembatan penyeberangan orang atau terowongan penyeberangan orang. Sehingga orang kerap kali menyeberang beramai-ramai saat arus lalu lintas sedang tinggi. Ini tentu menghambat laju kendaraan.
4.        Banyaknya persimpangan jalan yang belum memiliki bangunan fly over maupun underpass.
5.        Angka urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di Jakarta sangat tinggi.
6.        Banyaknya titik bottleneck, seperti di pintu-pintu masuk jalan tol.
7.        Kurangnya angkutan massal seperti bus dan kereta.
8.        Buruknya tata ruang dan kesalahan pemberian ijin bangunan seperti mall dan ruko.

C.      Dampak Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas sangatlah tidak disukai oleh semua masyarakat, karena kemacetan dapat menyebabkan banyak kerugian terhadap para pengguna jalan. Dampak kemacetan lalu lintas antara lain adalah pemborosan BBM, pemborosan waktu serta menimbulkan polusi udara. Pemborosann BBM terjadi karena kemacetan menyebabkan kendaraan menjadi terhambat sehingga terjadi pembakaran yang tidak efektif. Selain pemborosan BBM, bila terjadi kemacetan tentu kita juga akan rugi waktu. Misalnya jarak 60 km bisa kita tempuh hanya dengan waktu 1 jam, maka bila terjadi kemacetan dengan waktu yang sama mungkin kita hanya dapat menempuh jarak 10-20 km saja. Jadi, dampak yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas sangat banyak. Selain waktu dan biaya, kemacetan lalu lintas juga dapat menyebabkan stress dan menimbulkan emosi. Akibatnya pekerjaan pun menjadi terganggu. Kadang-kadang akibat terburu-buru akan terjadi kecelakaan yang dapat mengancam nyawa para pengguna jalan.
Kemacetan juga menyebabkan laju kendaraan menjadi lambat dan pembakaran pun menjadi lama, pembakaran yang lama akan menghasilkan karbondioksida sehingga akan menimbulkan polusi udara yanng semakin banyak. Karbondioksida mengandung racun yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat sehingga produktivitas menurun. Bila produktivitas menurun maka perekonomian juga akan terganggu. Selain itu, kemacetan juga dapat mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya. Jadi dampak yang diakibatkan oleh kemacetan lalu lintas sangat luas, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi hingga produktivitas kerja.
Dapat disimpulkan kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan dampak-dampak negatif, antara lain:
1.        Kerugian waktu, karena kecepatan yang rendah.
2.        Pemborosan energi.
3.        Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih sering.
4.    Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal.
5.        Meningkatkan stress pengguna jalan.
6.  Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti: ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya.

D.      Solusi Permasalahan Kemacetan Lalu Lintas
Untuk mengatasi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas kendaraan bermotor perlu ditempuh berbagai upaya(program aksi), utamanya:
1.        Menerapkan manajemen lalu lintas(traffic management) yang tepat dan efektif. Manajemen lalu lintas bertujuan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Manajemen lalu lintas meliputi:
a.         Kegiatan perencanaan lalu lintas
Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi antara lain untuk mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan persimpangan. Maksud tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan kemampuan ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.
b.         Kegiatan pengaturan lalu lintas
 Kegiatan pengaturan lalu lintas meliputi: penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan minimum dan maximum, larangan atau perintah penggunaan jalan bagi pemakai jalan.
2. Menyediakan dan mengoperasikan angkutan massal/umum perkotaan yang berkapasitas mencukupi dan dikelola secara profesional.
3.    Membangun ketersediaan prasarana perkotaan yang berkapasitas yang mampu melayani lalu lintas secara lancar.
4.  Menerapkan strategi kebijakan transportasi perkotaan yang komprehensif, akomodatif dan berwawasan masa depan.
Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.        Peningkatan kapasitas jalan
Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti:
a.        Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan.
b.       Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah.
c.       Mengurangi konflik di persimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
d.  Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover.
e.         Mengembangkan inteligent transport sistem.

2.        Keberpihakan kepada angkutan umum
Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan maka dioptimalkan angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan, antara lain:
a.        Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum.
b.      Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai busway.
c.       Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai Metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura.
d.     Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Trans Jakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum.
3.        Pembatasan kendaraan pribadi
Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:
a.   Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarif parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya.
b.    Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
c.     Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.
Ada juga solusi yang lain, dengan melibatkan peran pemerintah dan masyarakat, yaitu:
1.        Peran Pemerintah
Urbanisasi dan angka kelahiran yang tinggi menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi tidak terkendali. Berarti pemerintah harus membatasi laju urbanisasi dan menekan angka kelahiran dengan cara menjalankan program keluarga berencana. Bila pemerintah berhasil menangani laju urbanisasi dan angka kelahiran, maka jumlah pengguna jalan juga akan terkendali. Untuk mencegah semakin parahnya keadaan lalu lintas, pemerintah perlu megupayakan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memaksimalkan kendaraan umum, selain membangun ruas jalan baru, pemerintah juga harus menetapkan batas kecepatan suatu kendaraan untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat menyebabkan kemacetan. Disamping itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki jalan yang rusak, memperlebar jalan, menambah jembatan peyeberangan dan memperbaiki jembatan penyeberangan yang rusak. Setelah semua itu terlaksana, pemerintah tetap tidak boleh langsung bersenang-senang, karena mereka juga masih harus memperbaiki rambu-rambu lalu lintas, memperbaiki lampu lalu lintas serta sebisa mungkin menjadikan halte agar dapat menjadi lebih aman dan nyaman.
Busway dibuat lebih efektif dengan menambahkan jumlah armada, sehingga penumpang tidak menunggu lama dan waktu tempuh menjadi lebih cepat atau lebih singkat. Selain itu pemerintah harus pula mengoptimalkan kereta api yang telah ada, meningkatkan pelayanan dan kenyamanannya baik di stasiun maupun di dalam kereta api itu sendiri, sehingga banyak penggua jalan yang mau berpindah dari kendaraan pribadi ke kereta api.
Peraturan ditegakkan sehingga penduduk menjadi lebih disiplin. Apabila ada kendaraan yang bersalah segera ditilang sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya angkutan umum yang berhenti bukan di halte, kendaraan yang menerobos lampu merah, motor yang berada di jalur kanan serta pejalan kaki yang tidak disiplin juga harus didenda agar mereka merasa jera dengan apa yang telah mereka lakukan. Selain semua itu, pemerintah juga harus mengajak para pengguna jalan agar beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2.        Peran Masyarakat
Masyarakat sebagai pengguna jalan juga dapat membantu pemerintah dalam menangani kemacetan lalu lintas seperti dengan beralih ke angkutan umum yang tersedia dan lebih tertib berlalu lintas agar para pengguna kendaraan pribadi seharusnya mengikuti aturan agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Pejalan kaki harus mau membiasakan diri berjalan di trotoar dan menyeberang di jembatan penyeberangan. Apabila ingin menggunakan angkutan umum, maka kita harus menghentikan angkutan tersebut di halte yang telah di sediakan, begitu pula bila ketika hendak turun.
Untuk para supir hendaknya mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Supir angkutan umum tidak berhenti di sembarang tempat. Pada saat berhenti kendaraan dipinggirkan agar tidak mengganggu kendaraan lain dan jangan menjadikan perempatan atau pertigaan sebagai terminal. Pedagang kaki lima sebaiknya tidak berdagang di trotoar karena trotoar merupakan haknya pejalan kaki, begitu juga pejalan kaki untuk tidak membeli barang-barang di troatoar. Apabila menggunakan kendaraan pribadi sebaiknya gunakan kendaraan yang kecil dan jangan mencoba untuk menerobos lampu merah jika terjadi kemacetan lalu lintas dan jangan menggunakan kendaraan pribadi untuk keperluan yang tidak penting. Bagi para pengguna sepeda motor gunakanlah selalu jalur kiri dan dengan kecepatan yang tidak tinggi.




BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Lalu lintas sudah sedemikian macetnya. Dari tahun ke tahun kemacetan ini diperkirakan akan terus bertambah sebab pertambahan kendaraan bermotor 11 persen pertahun sedangkan pertambahan jalan hanya 1 persen pertahun. Dari perbandingan ini kita dapat membayangkan mengapa kemacetan lalu lintas itu sangat sulit untuk diatasi. Untuk mengatasi kemacetan yang semakin bertambah bahkan untuk mengatasi terjadinya kemacetan total, maka seluruh masyarakat dan juga pemerintah harus segera memikirkan jalan keluarnya dari sekarang. Pemerintah harus bisa mengendalikan laju urbanisasi dan juga harus dapat menekan angka kelahiran secara serius. Pemerintah segera membangun jalan satu arah, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan kereta api,  busway dan angkutan umum lainnya mulai dari sekarang. Selain itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki penegakan hukum tentang tata tertib berlalu lintas. Masyarakat juga dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kemacetan, misalnya dengan selalu tertib berlalu lintas, meningkatkan kesadaran hukum tentang lalu lintas serta juga dapat dilakukan dengan cara mematuhi semua peraturan lalu lintas. Bila semua itu dapat dilakukan dengan baik, mungkin kemacetan lalu lintas akan sedikit berkurang. Kedisiplinan berlalu lintas para pengguna jalan memang masih sangat rendah. Hal ini merupakan salah satu masalah penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas. Dan itu sangat merugikan masyarakat karena kemacetan dapat menyebabkan pemborosan BBM, pemborosan waktu serta dapat menimbulkan polusi udara.

B.       Saran
Menanggapi berbagai faktor penyebab kemacetan lalu lintas dan solusinya, penulis menyarankan beberapa hal, antara lain:
1.      Pemerintah sebaiknya meningkatkan pelayanan angkutan umum, agar masyarakat tertarik untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2.    Melakukan pembatasan usia kendaraan karena jika kendaraan tersebut sudah terlalu tua, maka kendaraan tersebut menjadi tidak fungsional lagi.
3.     Penegakan hukum yang tegas terhadap pengguna jalan, pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang melanggar aturan.
4.  Aturan yang tegas dan ketat terhadap arus urbanisasi dengan cara yang lebih optimal, dan hukuman dipertegas apabila ada yang melanggar.
5.     Pemerintah juga sebaiknya memasukkan pendidikan berlalu lintas dalam lingkup sekolah dasar dan sekolah menengah.


Rabu, 07 November 2018


MAKALAH LAPORAN DAN PENULISAN
PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DAN TINDAKAN PENCEGAHANNYA


Disusun oleh:
Adrianus Jonbosi Endong (10316264)



KELAS 3TA05
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin, rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah dengan judul “Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Gedung dan Tindakan Pencegahannya” ini disusun dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas untuk mata kuliah Laporan dan Penulisan. Melalui makalah ini, saya berharap agar saya dan pembaca mampu mengenal lebih jauh mengenai penyebab keterlambatan sebuah proyek serta cara pencegahannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses penyusunan makalah ini.




Penyusun








BAB I
PENDAHULUAN

1.1                Latar Belakang
      Manajemen proyek konstruksi adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumberdaya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan (ImamSuharto,1999). Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa konsep manejemen proyek konstruksi mengandung maksud sebagai berikut :
a.  Manejemen berdasarkan fungsinya yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan seperti manusia, keuangan, material dan peralatan.
b.      Manajemen proyek mempunyai waktu kegiatan yang dikelola berjangka pendek dengan sasaran yang telah ditentukan secara spesifik, dimana dalam pelaksanaaannya memerlukan teknik dan metoda pengelolaan yang khusus, terutama dalam aspek perencanaan dan pengendalian.
c.         Memakai pendekatan sistem ( System approach to management).
d.        Mempunyai Hierarki ( arus kegiatan ) horizontal dan vertikal.
            Keberhasilan dalam proses penyelesaian proyek harus berpegang pada tiga kendala (triple constrain) yaitu sesuai spesifikasi yang ditetapkan, sesuai waktu dan biaya yang ditetapkan. Keterkaitan waktu dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung perlu mendapat perhatian serius untuk menghindari keterlambatan proyek, sehingga diperlukan pengkajian khusus dalam proses pelaksanaan konstruksi. Keterlambatan proyek konstruksi bisa saja disebabkan salah dalam melakukan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek dalam tahap perencanaan, atau bermacam-macam kemungkinan misalnya disebabkan Manajemen yang tidak tepat, masalah bahan material , tenaga kerja, peralatan, keuangan, dan lingkungan yang tidak mendukung sehingga terhambatnya pelaksanaan proyek. Dan secara pasti mengakibatkan keterlambatan pekerjaan. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi tepat waktu, dapat di pastikan saling menguntungkan baik kontraktor maupun owner, oleh sebab itu perusahaan yang baik akan selalu berusaha melaksanakan sesuai waktu yang telah di tetapkan atau berusaha meminimalkan keterlambatan dengan memilih tindakan koreksi yang perlu dilakukan dan mengambil keputusan berdasarkan analisa dari berbagai faktor keterlambatan. Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk mengindentifikasi dan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek.

1.2                   Rumusan Masalah
              Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dalam penelitian ini diangkat permasalahan sebagai berikut:
1.        Apa faktor- faktor yang mempengaruhi keterlambatan sebuah proyek pembangunan?
2.   Apakah ada faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan sebuah proyek pembangunan gedung?
3.  Bagaimana solusinya agar tidak terjadi keterlambatan dalam melaksanakan suatu proyek pembangunan gedung?

1.3                   Tujuan Penelitian
                Tujuan penelitian yang dilakukan meliputi antara lain sebagai berikut:
1.        Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.
2.        Mengetahui faktor utama yang mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.
3.   Mengetahui tindakan yang perlu diperhitungkan terhadap faktor faktor risiko yang dominan mempengaruhi keterlambatan proyek pembangunan gedung.

1.4                   Manfaat Penelitian
1.       Bagi pemrakarsa proyek pembangunan gedung.
Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam mencari tahu dan menyelesaikan suatu masalah yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek pembangunan gedung.
2.        Bagi mahasiswa dan masyarakat.
Penelitian ini dapat menambah wawasan mereka tentang faktor-faktor keterlambatan proyek pembangunan gedung dan cara mengatasinya.


BAB II
TINJAU PUSTAKA


            Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukan baik yang ada di atas, di bawah tanah atau di air. Bangunan biasanya di konotasikan dengan rumah, gedung ataupun segala sarana, prasarana atau insfrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya.
            Menurut Wulfram ( 2004) Proyek konstruksi dapat di bedakan menjadi dua jenis kelompok bangunan yaitu :
a.         Bangunan gedung,dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Proyek Konstruksi menghasilkan tempat orang bekerja atau tinggal.
1.         Pekerjaan di laksanakan pada lokasi yang relatif sempit.
3. Manajemen di butuhkan, terutama untuk progressing pekerjaan.
b.        Bangunan Sipil, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Proyek konstruksi di laksanakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia.
2. Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang luas atau panjang.
3. Manajemen dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan.


BAB III
LANDASAN TEORI


3.1                   Proyek Konstruksi Gedung
         Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan membuat suatu bangunan, yang umumnya mencakup pekerjaan pokok dalam bidang teknik sipil dan teknik arsitektur. Di dalam suatu proyek konstruksi terdapat berbagai kegiatan, kegiatan proyek merupakan suatu kegiatan sementara dan berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber dana tertentu untuk melaksanakan tugas dengan sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Soeharto (1999), Banyak kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan proyek konstruksi menimbulkan banyak permasalahan yang bersifat kompleks.
Kompleksitas proyek tergantung dari :
1.        Jumlah macam kegiatan di dalam proyek.
2.        Macam dan jumlah hubungan antar kelompok (organisasi) di dalam proyek itu sendiri.
3.        Macam dan jumlah hubungan antar kegiatan (organisasi) di dalam proyek dengan pihak luar.
            Kompleksitas ini tergantung pada besar kecilnya ukuran suatu proyek. Proyek kecil dapat saja bersifat lebih kompleks dari pada proyek dengan ukuran yang lebih besar. Kompleksitas memerlukan pengaturan dan pengendalian yang sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan-benturan dalam pelaksanaan proyek, maka diperlukan adanya manajemen proyek yang handal dan tangguh untuk menopang pelaksanaan proyek. Gambaran proses pekerjaan konstruksi menurut Hillebrandt (1988) sebagai sesuatu yang panjang, rumit dan melibatkan banyak pihak. Keberhasilan proses pekerjaan konstruksi sangat tergantung dari saling keterkaitan antara pihak yang terlibat dalam proses konstruksi. Dalam proses konstruksi pihak-pihak yang terlibat dapat dari perorangan/perusahaan sebagai pelaku utama, dimana pemilik, bisa swasta/swasta perorangan/pemerintah dan bertanggung jawab atas konsepsi proyek, dan pemilik adalah pihak yang paling menentukan. Pemilik dibantu oleh Engineering/designer, seperti arsitek atau consultan engineering. Untuk pelaksanaan fisik dikerjakan oleh kontraktor umum atau kontraktor spesialis.

3.2              Manajemen Proyek Konstruksi Gedung
          Manajemen proyek konstruksi mempunyai karakteristik, unik, melibatkan banyak sumber daya, dan membutuhkan organisasi. Dalam proses penyelesaiannya harus berpegang pada tiga kendala ( triple constrain): sesuai spesifikasi yang ditetapkan, sesuai time schedule dan sesuai biaya yang ditetapkan (Wulfram, 2007) Selanjutnya Wulfram mengatakan tujuan dari manajemen proyek adalah untuk mendapatkan metode atau cara teknis yang paling baik agar dengan sumber-sumber daya yang terbatas di peroleh hasil maksimal dalam hal ketepatan, kecepatan, penghematan dan keselamatan kerja secara komprehensif. Menurut Soeharto (1999). Adapun tujuan dari proses manajemen proyek adalah sebagai berikut:
a.    Agar semua rangkaian kegiatan tersebut tepat waktu, dalam hal ini tidak terjadi keterlambatan penyelesaian suatu proyek
b.       Biaya yang sesuai, maksudnya agar tidak ada biaya tambahan lagi di luar dari
perencanaan biaya yang telah di rencanakan.
c.        Kualitas sesuai dengan persyaratan.
d.        Proses kegiatan sesuai persyaratan.
Manajemen merupakan suatu proses yang khas, yang terdiri dari tindakan perencana
(planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan atau pelaksana (actuating), dan pengawasan (controlling), yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.

3.3              Konsep Perencanaan Konstruksi
           Menurut (Asiyanto,2005),berdasarkan kontrak konstruksi dan dokumen gambar dan spesifikasi teknis yang ada, maka harus disusun suatu perencanaan pelaksanaan agar sasaran yang ingin dicapai dapat direalisasikan. Keberhasilan proyek konstruksi sangat ditentukan oleh Perencanaan konstruksi baik dalam pengelolaan dan pelaksanaan proyek konstruksi, antara lain mencangkup:
a.         Pemilihan teknologi.
b.        Definisi tugas pekerjaan.
c.         Estimasi sumber daya yang diperlukan.
d.        Durasi untuk tugas individu.
e.         Identifikasi dari setiap interaksi di antara
berbagai tugas pekerjaan.
Rencana pembangunan konstruksi yang baik adalah dasar untuk mengembangkan anggaran, jadwal dan mutu pekerjaan. Selain itu penggunaan Subkontraktor dalam perencanaan teknis konstruksi perlu keputusan organisasi. Sedangkan langkah-langkah perencanaan yang perlu dilakukan setelah data-data yang terkumpul dan cukup lengkap dari berbagai aspek yang dianggap perlu. Antara lain melakukan kajian terhadap gambar rencana dan spesifikasi teknis proyek yang ada, jika nantinya tidak sesuai dengan kondisi pelaksanaan dapat disempurnakan dengan melakukan konfirmasi ke konsultan perencana. Kemudian melakukan perhitungan yang lebih teliti terhadap volume pekerjaan, kebutuhan material, peralatan serta tenaga kerja yang digunakan. Dan dilanjutkan menyusun anggaran biaya pelaksanaan yang rinci yang disesuaikan dengan alokasi sumber daya yang dibutuhkan dan dana yang tersedia. Kemudian memilih jenis teknologi dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan perumusan rincian kegiatan dengan jadwal yang akurat dan terpadu. Serta melakukan persiapan aspek administratif, pengadaan serta pengorganisasian pihak-pihak yang terlibat, penyusunan program kerja, perencanaan pengelolaan risiko, perencanaan kesehatan dan keselamatan kerja serta perencanaan sistem informasi manajemen.

3.4              Faktor Risiko
      Faktor risiko yang melekat pada proyek konstruksi adalah ketidakpastian (uncertainty). Ketidakpastian sendiri dapat dibedakan antara lain. Ketidakpastian Risiko yang terkait dengan keadaan adanya ketidakpastian dan tingkat ketidakpastiannya terukur secara kuantitatif, apabila kita dapat memperoleh informasi. Selanjutnya Ketidakpastian yang diartikan dengan keadaan dimana ada beberapa kemungkinan kejadian yang akan menyebabkan hasil yang berbeda, tetapi tingkat kemungkinan atau probabilitas kejadiannya tidak diketahui secara kuantitatif,(Bramantyo,2008). Menurut PMBOK (Project Management Institute Body of Knowledge,2008) definisi manajemen risiko adalah merupakan proses formal dimana faktor-faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, dianalisis, respon, dan dikendalikan. Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang formal yang berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya perubahan yang tidak diinginkan. Di dalam konteks suatu proyek, merupakan suatu seni dan iptek dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon terhadap faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek. Enam tahapan dalam manajemen risiko, antara lain:
a.         Perencanaan Manajemen Risiko.
b.        Identifikasi Risiko.
c.         Analisa Risiko Kualitatif.
d.        Analisa Risiko Kuantitatif.
e.         Perencanaan Respon Risiko.
f.         Kontrol dan Monitoring Risiko.
Adapun tujuan tujuan dari manajemen risiko adalah untuk meningkatkan kinerja proyek dari awal sampai selesai dengan melakukan identifikasi, evaluasi, dan kontrol yang berhubungan dengan risiko proyek.

3.5              Kinerja Waktu Proyek Konstruksi
        Menurut Abrar (2009) standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk seluruh tahapan kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya, dari semua informasi dan data yang diperoleh dilakukan proses penjadwalan sehingga akan ada output berupa format-format laporan lengkap mengenai progress waktu. Seperti Barchart, Network Planning, Kurva S dan kurva Earned Value. Hasil pemantauan dari laporan pada format-format diatas, perlu dilakukan evaluasi dan koreksi dengan cara memperbarui data dan informasi agar kinerja waktu tercapai sesuai rencana. Selanjutnya masalah-masalah yang timbul yang dapat menghambat kinerja waktu adalah sebagai berikut.
1.        Alokasi penempatan sumber daya tidak efektif karena penyebarannya fluktuatif
dan ketersediaan sumber daya yang tidak mencukupi.
2.        Terjadinya keterlambatan proyek disebabkan oleh :
a.         Jumlah tenaga kerja yang terbatas.
b.        Peralatan yang tidak mencukupi.
c.         Metode kerja yang salah.
d.        Kondisi cuaca yang buruk.
Disamping itu waktu proyek dapat juga dipengaruhi oleh aspek sosial ekonomi,
menurut Yasin (2006) aspek sosial ekonomi merupakan aspek yang sulit diprediksi karena tergantung dari karakteristik, kondisi masyarakat setempat, dan
permasalahan pada bidang ekonomi yang mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap kelancaran proyek. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam aspek sosial ekonomi yang dikutip dari Tangdialla adalah disebabkan :
a.         Keharusan menggunakan tenaga kerja tertentu disekitar proyek berada yang
bertujuan mengurangi kecemburuan sosial (Yasin,2006), tetapi keharusan memakai tenaga kerja tersebut berdampak pada pelaksanaan proyek konstruksi, karena produktivitas pekerja yang rendah karena kurangnya pengalaman.
b.        Keselamatan kerja menurut (Nunnally, 1998 ) adalah salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek terutama pada waktu dan biaya. Penyebab-penyebab sekunder kecelakaan kerja yang terjadi dipengaruhi oleh antara lain hubungan kerja, komunikasi kerja, persaingan kerja, penataan tempat kerja dan sarana keselamatan kerja (Majalah Konstruksi, Juni 1995). Sedangkan kecelakaan kerja disebabkan kecelakaan primer yang terjadi karena batas waktu pelaksanaan proyek semakin dekat sehingga mengabaikan keselamatan kerja.
c.         Faktor keamanan dalam suatu proyek menurut Ritz (1994) perlu diperhatikan
untuk menghindari kehilangan material dan peralatan dalam lokasi proyek yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan sehingga mengganggu pelaksanaan proyek. Oleh sebab itu, menurut Gustavson, (1995). Kualitas dan keamanan proyek harus terus diperhatikan baik itu pada saat pelaksanaan proyek berlangsung ataupun pada malam hari ataupun pada hari libur.
d.  Pemakaian material yang telah ditetapkan sesuai dengan anjuran dari pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri dalam rangka guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghemat devisa, dan jika anjuran itu diatur dalam suatu undang-undang khusus yang sifatnya tegas, menurut Yasin (2006), memungkinkan akan menghambat penyelesaian proyek jika mendapatkan bahan bangunan tertentu tidak terpenuhi.

3.6              Pelaksanaan Proyek Konstruksi
       Sumber daya merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan, oleh sebab itu harus diperhatikan dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Sumber daya material merupakan salah satu sumber permasalahan proyek yang mempengaruhi terjadinya keterlambatan proyek. Dalam mengadakan sumber daya manajemen harus mempunyai informasi-informasi yang dapat menunjang kegiatan proyek, memiliki dokumen, prosedur dan jadwal sesuai dengan deskripsi kerja yang
ada. Menurut ( Huston 1998) untuk menjalankan kualitas dari kontrak pekerjaan,
persyaratan kualitas yang ditetapkan pemilik proyek dapat digunakan untuk pendekatan harga dan schedule dalam pengerjaan proyek. persyaratan-persyaratan yang harus dipertimbangkan untuk mengatur material, peralatan, engginering dan kontrak konstruksi. Oleh sebab itu dalam mengadakan sumber daya, perlu diketahui beberapa hal, antara lain:
a.         Sumber daya yang dibutuhkan dan persyaratan pengadaan sumber daya?
b.        Sumber daya didatangkan dari mana?
c.         Bagaimana pengelolaan sumber daya?
Menurut Park (1979), Kegagalan kontraktor didalam pelaksanaan proyek konstruksi sering terjadi, kegagalan tersebut disebabkan oleh:
a.         Ketidakcakapan (incompetenci).
b.        Kurang pengalaman manajerial (lack of managerial experience).
c.         Ketidakseimbangan pengalaman (Unbalanced experience).
d.        Kurang pengalaman dalam bisnis konstruksi (lack experience in the line).
e.         Kelalaian (Negleckt).
f.         Penipuan (Fraud).
g.        Bencana (Disaster).
Kompleksitas disain merupakan fungsi dari constructability, pemakaian teknologi maju metoda dan peralatan khusus serta integrasi bermacam-macam disiplin. Metode yang baik sangat berpengaruh terhadap barunya alat yang digunakan. Kontraktor yang memiliki pengalaman terhadap metode dan alat yang digunakan, akan menghadapi risiko yang lebih kecil.( Jahren & Ashe 1990).


BAB IV
METODE PENELITIAN


4.1       Kerangka Pemikiran
          Menurut Narbuko (2007), mengatakan seluruh kegiatan sejak dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan penyelesaiannya harus merupakan satu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh, menuju kepada satu tujuan yang tunggal, yaitu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah. Dari studi Literature untuk mengetahui dan mengumpulkan factor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek, didapat 6 ( enam) Sumber faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi adalah:
1.        Pencapaian spesifikasi.
2.        Ketersediaan material.
3.        Sumber Daya Manusia tidak memadai.
4.        Keterlambatan alat.
5.        Sistim pengendalian proyek.
6.        Metoda pelaksanaan.
Dari enam sumber risiko dapat pula ditentukan rincian dari sumber risiko yang merupakan dampak dari keterlambatan proyek konstruksi, dan didapat rincian faktor faktor yang menyebabkan keterlambatan proyek, sebagai berikut:
1.         Keahlian dan sumber daya yang tidak cukup untuk melaksanakan desain spesifikasi.
2.        Melakukan perubahan terhadap desain.
3.        Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi.
4.        Kenaikan harga material bahan bangunan.
5.        Material yang di gunakan kurang yang di butuhkan.
6.        Penumpukan material di lokasi proyek.
7.        Ketidak tepatan waktu pemesanan bahan.
8.        Kekurangan bahan konstruksi.
9.        Menempatkan tenaga kerja yang kurang berpengalaman di bidangnya.
10.    Jumlah tenaga kerja yang tidak mencukupi.
11.    Menggunakan tenaga kerja yang kurang terampil di bidangnya.
12.    Kekurangan tenaga kerja.
13.    Mutu peralatan yang di gunakan kurang baik.
14.    Alat yang di gunakan tidak sesuai dengan spesifikasi.
15.    Jumlah peralatan kurang dari yang dibutuhkan.
16.    Kerusakan alat.
17.    Schedule pelaksanaan tidak sesuai yang di rencanakan.
18.    Jadwal pengadaan material tidak sesuai yang di rencanakan.
19.    Metoda pelaksanaan pekerjaan tidak tepat.
20.    Metode pengoperasian alat tidak tepat.
Variabel-variabel tersebut diatas diperoleh melalui studi literatur dan survei kepada responden dan kepada para pakar. Kemudian dilanjutkan dengan mencari tingkat pengaruh dari masing-masing variabel. Dan masing-masing faktor tersebut menghasilkan tingkat pengaruh terhadap peningkatan kinerja waktu proyek.

4.2       Pengumpulan Data
            Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey melalui pengisian kuisioner dan wawancara kepada responden. Data yang akan diteliti dan dianalisa secara rinci terdiri dari data primer dan data sekunder.
a.         Data primer merupakan data yang dikumpulkan dengan melakukan studi
lapangan. Data primer didapat melalui survei dengan teknik wawancara kepada pakar yang bekerja di bidang jasa konsultan/konstruksi dan para pelaku pengambil kebijakan.
b.        Data Sekunder merupakan data atau informasi yang diperoleh dari studi
literatur, merupakan data yang sudah diolah, meliputi : Data yang digunakan
sebagai landasan teori dari penelitian, yang diperoleh dari buku-buku, jurnal,
makalah, serta dari penelitian yang berkaitan terdahulu.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner pada responden. Dengan kriteria dan persyaratan sebagai berikut:
a.         Penelitian akan dilakukan terhadap proyek konstruksi gedung yang berada di Propinsi Sumatera Barat.
b.        Difokuskan pada pelaksanaan pengadaan proyek jasa konstruksi
pemerintah dengan menerapkan Keppres 80 Tahun 2003.
c.         Kontraktor golongan Kecil dan Menengah.
d.   Populasi penelitian ini melibatkan Owner, Kontraktor, Konsultan perencana dan Konsultan Supervisi.
Sedangkan Sampel responden yang digunakan adalah yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini berdasarkan dari reputasi, pengalaman dan kerjasama sebagai berikut:
a.         Responden penelitian adalah owner dan konsultan supervisi dan kontraktor.
b.        Owner adalah kepala satker dan penjabat pembuat komitmen serta pengendali teknis.
c.   Bagi konsultan supervisi dan kontraktor memiliki pengalaman memimpin perusahaan jasa konstruksi.
d.        Memiliki pendidikan yang menunjang di bidangnya dan reputasi yang baik.


BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN


5.1         Analisa Hubungan Antara Kinerja Waktu Konstruksi dengan Factor Risiko
            Hasil tabulasi data digunakan sebagai data input ke dalam SPSS 17, input data merupakan hasil dari sampel varibel faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi gedung di Bukittinggi. Analisa statistic deskriptif dengan cara menjumlahkan data seluruh individu dalam kelompok itu, kemudian dibagi dengan jumlah individu yang ada pada kelompok tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan rumus berikut:
i = n
i = 1
Me =......................................
n
Dimana:
Me = Nilai rata-rata (mean)
N = Jumlah responden
Xi = Frekuensi pada (i) yang diberikan responden terhadap masing- masing Faktor Keterlambatan
i = kategori index responden
Untuk variable bebas, penilaian terhadap dampak/pengaruh risiko dapat dilihat seperti tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1 Skala Dampak/ Pengaruh Risiko
Skala
Penilaian
Keterangan
1
Sangat rendah
Tidak berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
2
Rendah
Kadang berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
3
Sedang
Berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
4
Tinggi
Sering berdampak pada waktu pelaksanaan proyek
5
Sangat tinggi
Selalu berdampak pada waktu pelaksanaan proyek

Dari Analisa statistik deskriptif yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai mean dan median dari keseluruhan penilaian yang telah diberikan oleh responden atas variabel yang telah ditanyakan . Penggunaan dari nilai mean ditujukan untuk mendapatkan gambaran secara kualitatif mengenai respon dari responden. Tabel deskriptif dampak factor resiko yang mempengaruhi kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi adalah seperti tabel 5.2 dibawah ini.

Tabel 5.2 Deskriptif Dampak factor resiko yang mempengaruhi kinerja
waktu pelaksaan proyek konstruksi.
Variabel
Faktor risiko yang mempengaruhi keterlambatan proyek
Tingkat dampak risiko
Mean
Median
X1
Keahlian yang tidak cukup melaksanakan desain spesifikasi
4,7419
5,00
X2
Melakukan perubahan terhadap desain
4,8387
5,00
X3
Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi
2,9677
3,00
X4
Kenaikan harga material
2,4839
2,00
X5
Material kurang dari yang dibutuhkan
4,6129
5,00
X6
Penumpukan material dilokasi proyek
3,9677
4,00
X7
Ketidaktepatan waktu dalam pemesanan bahan
4,1935
4,00
X8
Kekurangan bahan konstruksi
3,9032
4,00
X9
Menempatkan tenaga kerja yang tidak berpengalaman di bidangnya
4,2903
5,00
X10
Jumlah tenaga kerja yang kurang dari yang dibutuhkan
4,1613
4,00
X11
Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil di bidangnya
4,6452
5,00
X12
Kekurangan tenaga kerja
2,9032
3,00
X13
Mutu yang digunakan kurang baik
3,2258
4,00
X14
Alat yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi
4,0323
4,00
X15
Jumlah peralatan yang kurang dibutuhkan
4,5806
5,00
X16
Kerusakan alat
3,5484
4,00
X17
Jadwal perencanaan yang tidak sesuai dengan perencanaan
3,7742
4,00
X18
Jadwal pengadaan material yang tidak sesuai yang direncanakan
3,8065
4,00
X19
Metode pelaksanaan tidak tepat
3,9032
4,00
X20
Metode pengoperasian alat tidak tepat
4,9032
5,00

Adapun grafik deskriptif dampak faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu
pelaksanaan proyek konstruksi adalah seperti Gambar 5.1 dibawah ini.


Gambar 5.1. Grafik Deskriptif Dampak Faktor Risiko yang mempengaruhi
kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi gedung.

Dari data dan grafik didapat nilai rata-rata tertinggi adalah pada variabel :
X 20 ( Metode pengoperasian alat tidak tepat)
X 2 ( Melakukan perubahan terhadap disain)
X 1 ( Keahlian yang tidak cukup untuk perubahan desain spesifikasi)
X 11 ( Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil)
X 5 ( Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan )
Kemudian untuk nilai rata – rata terendah yaitu pada variabel :
X4 ( Kenaikan harga material bahan bangunan)
X3 (Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi)
Untuk variabel Y, yang merupakan kinerja waktu pelaksanaan proyek, diperoleh nilai modus ( mode) sebesar 4, 84 yang berarti kinerja waktu tinggi.

Tabel 5.3. Frekuensi kemunculan Kinerja Y
Valid
Ferequency
Percent
Valid percent
Cumulative percent
4,00
5,00
Total
5
26
31
16,1
83,9
100,0
16,1
83,9
100,0
16,1
100,0


Gambar 5.2 Histogram Variabel Y

5.2       Temuan dan Bahasan
            Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa yang dominan yang berpengaruh tinggi terhadap kinerja waktu pelaksanaan proyek konstruksi. Berdasarkan hasil pengolahan data, ditemui 20 peringkat faktor risiko dari (enam) sumber risiko yang ada pada pelaksanaan proyek konstruksi. Terdapat bebrapa variabel yang dominan dari faktor risiko yang paling yang berdampak dengan keterlambatan proyek konstruksi, yaitu:
1.        Metode pengoperasian alat tidak tepat
2.        Melakukan perubahan terhadap disain
3.        Keahlian yang tidak cukup untuk perobahan desain spesifikasi
4.        Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil
5.        Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan.
Sedangkan faktor risiko yang mendapatkan peringkat terendah adalah
1.        Kenaikan harga material bahan bangunan.
2.        Mutu material tidak sesuai dengan spesifikasi.
Adapun tindakan Preventive dan Corective untuk masing-masing faktor risiko yang dominan terhadap keterlambatan proyek dapat dilakukan sebagai berikut.
1.        Metode pengoperasian alat tidak tepat
Mencegah keterlambatan akibat pengoperasian alat tidak tepat, dengan kontraktor harus menggunakan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan, baik jenis peralatan maupun kapasitasnya. Dalam penawaran harus sudah diperhitungkan peralatan yang dipakai yang sesuai dengan kondisi pekerjaan dan lokasinya. Disamping itu operator yang menjalankan peralatan harus terampil dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan. Oleh sebab itu operator yang akan digunakan terlebih dahulu dilatih agar dalam pelaksanaan pekerjaan tidak ditemui permasalahan.
2.        Melakukan perubahan terhadap disain
Kontraktor harus mempelajari gambar-gambar desain yang akan dikerjakan sebelum pelaksanaan dimulai , bila ada hal-hal yang meragukan dalam desain tersebut segera didiskusikan dengan pemilik proyek dan konsultan pengawas untuk diambil langkah-langkah perbaikannya. dengan demikian setiap perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pelaksanaan proyek, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
3.        Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil
Untuk tindakan preventive, kontraktor harus bisa menyediakan tenaga pelaksana yang mampu membina tenaga kerja yang kurang terampil menjadi terampil di bidangnya, dengan pemilihan tenaga pelaksana yang akan melaksanakan pekerjaan harus selektif. Sebelum pekerjaan dilaksanakan
dilakukan pelatihan in the jon Training. Dengan mengutamakan tenaga pelaksana yang sudah berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sejenis sehingga dapat mengajarkan ilmunya kepada tenaga kerja yang kurang terampil.


BAB VI
KESIMPULAN


            Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa permasalahannya akibat Metode pengoperasian alat tidak tepat, Melakukan perubahan terhadap disain, Keahlian yang tidak cukup untuk perubahan desain spesifikasi, Menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil, dan Material yang digunakan kurang dari yang dibutuhkan. Pada masa pelaksanaan proyek konstruksi dapat mempengaruhi waktu atau keterlambatan proyek konstruksi, dengan mengetahui faktor resiko yang dominan dapat membantu untuk mengambil keputusan dalam menentukan tindakan koreksi yang paling sesuai, untuk mengurangi resiko seminimal mungkin sampai pada batas yang dapat diterima.


DAFTAR PUSTAKA

1.        AbrarHusen, (2008) Manajemen proyek, perencanaan,penjadwalan &pengendalian proyek ,Yogyakarta : Penerbit Andi .
2.        Asiyanto,(2005).Construction Project Cost Management, Jakarta : Pradnya Paramita
3.        Bramantyo Djohanputro, (2008) , Manajemen Risiko Korporat, (Jakarta : Penerbit PPM.
4.        Imam Suharto, ( 1999) Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional) Jilid 1, Edisi kedua, Jakarta, penerbit Erlangga
5.        C. T. Jahren, and M. Ashe, “Predictors of Cost Overrun Rates,” ASCE –Journal of Construction Engineering and Management, 1990
6.        Nazarkhan Yasin,(2006). Mengenal kontrak konstruksi di Indonesia,Jalakta:
Penerbit Gramedia.
7.        Narbuko,Cholid dan Ahmadi H.Abu(2003),Metodologi Penelitian, Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara .
8.        Ritz, George. J. Total Construction Project Management.