Jumat, 27 Januari 2017

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR GUNADARMA

KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN
DAN MASYARAKAT PEDESAAN

A.            Pengertian Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan


Masyarakat Desa
Secara awam masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat. yang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. Memang tidak dapat dipungkiri masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya.
Menurut Paul H. Landis, desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut:
1.    Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
2.    Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
3.    Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat
4.    Dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan
Komunitas desa adalah, sekumpulan orang yang tinggal jauh dari daerah perkotaaan yang jumlah penduduknya kurang dari 2500 jiwa dan sebagian besar bermatapencaharian bertani karena masih sangat bergantung pada alam

Masyarakat Perkotaan

      Membahas masyarakat perkotaan sebetulnya tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat desa karena antara desa dengan kota ada hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa kekota. Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat urban dari berbagai asal/desa yang bersifat heterogen dan majemuk karen terdiri dari berbagai jenis pekerjaan/keahlian dan datang dari berbagai ras, etnis, dan agama.

Mereka datang ke kota dengan berbagai kepentingan dan melihat kota sebagai tempat yang memiliki stimulus (rangsangan) untuk mewujudkan keinginan. Maka tidaklah aneh apabila kehidupan di kota diwarnai oleh sikap yang individualistis karena mereka memiliki kepentingan yang beragam. Lahan pemukiman di kota relatif sempit dibandingkan di desa karena jumlah penduduknya yang relatif besar maka mata pencaharian yang cocok adalah disektor formal seperti pegawai negeri, pegawai swasta dan di sektor non-formal seperti pedagang, bidang jasa dan sebagainya. Sektor pertanian kurang tepat dikerjakan di kota karena luas lahan menjadi masalah apabila ada yang bertani maka dilakukan secara hidroponik. Kondisi kota membentuk pola perilaku yang berbeda dengan di desa, yaitu serba praktis dan realistis.
Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.
Masyarakat perkotaan sering juga disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupan serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Masyarakat kota memiliki tatanan yang heterogen sehingga kelompoknya lebih dinamis. Masyarakat kota mempunyai daya tarik bagi masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi.Perhatian khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan dan perumahan, tetapi mempunyai perhatian lebih luas lagi.



B.            Ciri – Ciri Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Ø Adapun ciri-ciri masyarakat desa antara lain :
1.      Anggota komunitas kecil
2.      Hubungan antar individu bersifat kekeluargaan
3.      Sistem kepemimpinan informal
4.      Ketergantungan terhadap alam tinggi
5.      Religius magis artinya sangat baik menjaga lingkungan dan menjaga jarak dengan penciptanya, cara yang ditempuh antara lain melaksanakan ritus pada masa-masa yang dianggap penting misalnya saat kelahiran, khitanan, kematian dan syukuran pada masa panen, bersih desa.
6.      Rasa solidaritas dan gotong royong tinggi
7.      Kontrol sosial antara warga kuat
8.      hubungan antara pemimpin dengan warganya bersifat informal
9.      Pembagian kerja tidak tegas, karena belum terjadi spesialisasi pekerjaan
10.  Patuh terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di desanya (tradisi)
11.  Tingkat mobilitas sosialnya rendah
12.  Penghidupan utama adalah petani.

Ø Ciri-ciri masyarakat kota (urban) antara lain :
1.      Kehidupan keagaam berkurang, karena cara berpikir yang rasional dan cenderung sekuler
2.      Sikap mandiri yang kuat  dan tidak terlalu tergantung pada orang lain sehingg cenderung individualistis
3.      Pembagian kerja sangat jelas dan tegas berdasarkan tingkat kemampuan/ keahlian
4.      Hubungan antar individu bersifat formal dan interaksi antar warga berdasarkan kepentingan.
5.      Sangat menghargai waktu sehingga perlu adanya perencanaan yang matang.
6.      Masyarakat cerderung terbuka terhadap perubahan didaerah tertentu (slum)
7.      Tingkat pertumbuhan penduduknya sangat tinggi
8.      Kontrol sosial antar warga relatif rendah
9.      Kehidupan bersifat non agraris dan menuju kepada spesialisasi keterampilan
10.  Mobilitas sosialnya sangat tinggi karena penduduknya bersifat dinamis, memamanfaatkan waktu dan kesempatan, kreatif, dan inovatif.

Ø Perbedaan Masyarakat pedesaan dan perkotaan
1.    Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2.    Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3.    Ukuran Komunitas, Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4.    Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
5.    Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6.    Diferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
7.    Pelapisan Sosial, Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.

C.            Hubungan Masyarakat Pedasaan  Dan Masyarakat Perkotaan


Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak danorang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Contoh bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
Ø Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 )
Ø Interaksi sosial dapat terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi.
a.    Pola interaksi sosial pada masyarakat ditentukan oleh struktur sosial masyarakat yang bersangkutan.
b.    Pola interaksi masyarakat pedesaan adalah dengan prinsip kerukunan, sedang masyarakat perkotaan lebih ke motif ekonomi, politik, pendidikan, dan kadang hierarki.
c.    Pola interaksi masyarakat pedesaan bersifat horisontal, sedangkan masyarakat perkotaan vertikal.
d.   Pola interaksi masyarakat kota adalah individual, sedangkan masyarakat desa adalah kebersamaan.
e.    Pola solidaritas sosial masyarakat pedesaan timbul karena adanya kesamaan-kesamaan kemasyarakatan, sedangkan masyarakat kota terbentuk karena adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat.
Ø Pengaruh kota terhadap desa :
a.       kota menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan desa
b.       menyediakan tenaga kerja bidang jasa
c.        memproduksi hasil pertanian desa
d.      penyedia fasilitas-fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, rekreasi
e.       andil dalam terkikisnya budaya desa
Ø Pengaruh desa terhadap kota :
a.       penyedia tenaga kerja kasar
b.      penyedia bahan-bahan kebutuhan kota
c.       penyedia ruang (space)

D.          Perkembangan  Masyarakat Pedesaan dan Kota
Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam arti luas masyarakat adalah ekseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya territorial, bangsa, golongan dan sebagainya.
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap cirri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
1. kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2.  perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam              menerima pengaruh dari luar.
3. orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain


 Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras, sayur mayur, daging, ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota misalnya saja buruh bangunan dalam proyek-proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan.

Perbedaan desa dan kota :
1.jumlah dan kepadatan penduduk
2. mata pencaharian
3.pola interaksi
4.corak kehidupan sosial
5.solidaritas sosial

     Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan pakaian, alat dan obat pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan transportasi. Dalam kenyataannya hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal luas lahan pertanian dan tanah sulit bertambah, terutama didaerah yang sudah lama berkembang seperti pulau jawa. Peningkatan jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa di pedesaan terdapat banyak orang yang tidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mereka merupakan pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah penuh.

      Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilik ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebagai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
 ciri masyarakat desa :
Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal  mata pencaharian, agama, dan adat istiada.
Masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
Kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan

Didalam masyarakat pedesaan mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab - sebab bahwa didalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan - ketegangan sosial.
Gejala - gejala sosial yang sering terjadi :
1. Konflik
2. Kontraversi
3. Kompetisi
4. Kegiatan pada masyarakat pedesaan.

Sabtu, 17 Desember 2016

ILMU SOSIAL DASAR

PEMBANGUNAN STADION PAKANSARI

Pembangunan Stadion Pakansari, di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sudah rampung. Stadion megah itu bahkan sudah siap dipergunakan.Pada Rabu (16/3) lalu, stadion itu telah diresmikan. Pembangunan stadion di atas lahan 60 hektare itu hingga kini menghabiskan dana cukup fantastis yakni Rp803 miliar.Proyek tersebut di lelang dengan nilai proyek sebesar Rp. 125.661.592.000.Proyek ini di mulai pada tanggal 12 April 2012dan hingga saat ini (20/11) sudah 60%.Untuk area di luar stadion di kerjakan oeh PT Bonasa Jaya seluas 5000 m2 dan dimulai pada tanggal 5 Agustus dengan waktu kerja 148 hari.Pembangunan ini di awasi oleh PT Yodya Karya dan juga pemerintah baik Pemkab Bogor, Pemprov Jabar, maupun Pemerintah Pusat.
Stadion saat ini sudah dilengkapi dengan gerbang parkir elektronik yang sudah terpasang di halaman Stadion. Stadion berkapasitas penonton sekitar 31.000 orang itu sudah mulai digunakan untuk event daerah maupun nasional seperti perhelatan PON XIX Jawa Barat yang menjadi salah satu tempat venue pertandingan.Stadion Pakansari memiliki lahan parkir yang sangat luas dan mampu menampung ribuan dari mulai sepeda motor, mobil minibus dan mobil bus besar.Sesuai perencanaan pembangunan, kapasitas parkir kendaraan roda dua sekitar 3000 unit, kendaraan roda empat 6000 unit dan mobil bus sekitar 69 unit dan tarif parkir sampai saat ini belum ada ketentuan baku, namun masih dilakukan penyesuaian sambil menunggu proses pembangunan selesai.Sementara itu, hingga Minggu (30/10/2016) pembangunan di area lahan parkir Stadion Pakansari masih belum rampung. Sempat terjadi keterlambatan karena proyek tahap IV pembangunan Stadion Pakansari, mulai memasuki batas akhir. Tetapi, masih banyak yang belum selesai. Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, segera memanggil Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Yusuf Sadeli untuk mempertanyakan progres pembangunan sarana olahraga tersebut.
Stadion Pakansari merupakan stadion bertaraf internasional, terbukti dengan adanya fasilitas seperti single seat, dua layar LED besar yang terpampang di tiap-tiap sudut belakang gawang. Tak hanya itu, Stadion Pakansari juga dilengkapi sarana atletik yang mengelilingi arena sepakbola, seperti lintasan lari, arena lempar lembing dan lompat jauh, yang berada di sisi lapangan.Stadion ini juga telah siap menggelar event-event olahraga bertaraf nasional. Bahkan stadion ini telah siap menjadi salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jawa Barat 2016.




























Senin, 31 Oktober 2016

LISTRIK PINTAR TANPA PLN



LISTRIK PINTAR TANPA PLN
Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang berlimpah, seperti energi matahari, energi angin, energi air, energi gelombang laut, dan lain sebagainya. Sumber-sumber ini terdapat di lingkungan desa dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat desa. Oleh karena itu, pengembangan listrik untuk desa dengan energi terbarukan, merupakan solusi untuk menjawab akses listrik untuk desa yang cukup rendah.Setiap desa memiliki karakter dan kebutuhan yang mungkin berlainan satu sama lainnya. Namun semua kebutuhan tersebut dapat hanya dipenuhi oleh pembangkit listrik dari tenaga surya. Berikut adalah cara untuk mengetahui kebutuhan listrik untuk desa:
  1. Tentukan kebutuhan peruntukan listrik, misalkan apakah listrik untuk perorangan, komunitas atau desa secara keseluruhan? Apakah listrik hanya untuk penerangan atau diperuntukkan untuk alat lain, seperti komputer, pompa air, dan lain sebagainya?
  2. Tentukan besaran total kapasitas yang digunakan. Misalkan penerangan rumah memerlukan lampu 3 unit LED 3 watt yang digunakan 12 jam malam hari, sehingga total kapasitas adalah 108 watt/hari. Atau pompa air untuk irigasi dengan daya 300 watt digunakan 4 jam setiap hari, sehingga total kapasitas perhari adalah 1200 watt/hari.
  3. Selalu ingat bahwa penyinaran matahari di Indonesia adalah 4 jam. Beberapa daerah kota besar, memiliki penyinaran hanya 3 jam, dan beberapa daerah yang dekat dengan garis khatulistiwa memiliki waktu penyinaran hingga 5 jam. Namun 4 jam penyinaran, dapat menjadi standar acuan.
  4. Untuk memperoleh hitungan kapasitas sementara sistem panel surya terpasang, cukup bagi total kapasitas dengan 4 jam penyinaran. Misalnya untuk penerangan 108 watt/hari, jika dibagi 4 maka didapat angka 27. Maka angka 27 tersebut dapat diartikan sebagai 27 Wp kapasitas panel surya.
  5. Tentukan lokasi pemasangan. Jika sistem panel surya terpasang di atap, maka biayanya akan cenderung lebih tinggi dibanding hanya diletakkan di atas tanah. Kapasitas panel surya yang lebih besar membutuhkan lahan yang lebih luas, dan lain sebagainya.
5 poin diatas adalah penting diketahui untuk menghitung kebutuhan listrik untuk desa. Gunakan informasi diatas untuk berkomunikasi dengan penyedia produk sistem panel surya.
Alternati Pembangkit tenaga listrik :
Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah pastinya memiliki potensi untuk dapat menghasilkan energi listrik. Tidak hanya dengan menggunakan sumber bahan bakar minyak, tapi bisa dengan berbagai alternatif bahan bakar yang disediakan nusantara ini.
Beberapa alternatif Pembangkit Listrik yang dapat digunakan oleh masyarakat seperti :

1.   Pembangkit Listrik tenaga Matahari
Sebagai negara dengan iklim tropis, ketersediaan sinar matahari sangat bagus dan berlangsung lama. Negara kita sangat luas, berada di khatulistiwa yang bisa membuat siang hari terasa sangat panas. Sangat disayangkan bila kita tak bisa memanfaatkan sumber alam terbarukan ini.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdiri dari Solar Cell yang memanfaatkan matahari sebagai sumber energinya. Teknologi ini sudah ditemukan sejak tahun 1941 dan diaplikasikan oleh NASA dan militer Amerika Serikat. Energi Surya dapat diaplikasikan di hampir semua peralatan yang menggunakan listrik: aplikasi rumah tangga (lampu, radio, TV, DVD player, parabola, komputer, kipas angin, rice cooker, kulkas, pompa air, air conditioner), aplikasi pertanian dan peternakan.
Mungkin kendala yang saat ini terjadi adalah masih mahalnya biaya pembuatan pembangkit listrik bertenaga surya ini karena harga komponennya yang masih mahal. Tapi bila komponen itu dapat dibuat sendiri oleh anak bangsa, dengan bantuan pemerintah pastinya, harga komponen tersebut dapat melancarkan usaha pembangunan pembangkit tenaga surya ini.
Pembangkit jenis ini akan sangat ccocok ditempatkan pada daerah luas didekat khatulistiwa seperti di kalimantan dan sulawesi di pedalaman.
Hasil gambar untuk sel surya

2.   Pembangkit listrik tenaga Biogas
Pembangkit listrik jenis ini sudah semakin banyak kita temui di masyarakat, paling tidak dari surat kabar yang memuatnya. Beberapa desa di Indonesia ada yang telah mengaplikasikan-nya secara swasembada seperti di desa rantau sakti Riau dengan limbah sawit dan berbagai daerah lain.
Pembangkit biogas ini secara umum menggunakan materi organik sisa, seperti kotoran sapi dll sebagai bahan dasar. Setelah itu akan ditambahkan mikroorganisme tertentu untuk fermentasi Hasil dari fermentasi ini nantinya adalah senyawa gas biometan yang dapat digunakan untuk menjalankan turbin pembangkit tenaga listrik.
Pembangkit jenis ini akan dapat dimanfaatkan secara luas, mengingat di setiap daerah pasti akan ada sampah. Seperti sampah perkebunan sawit, sampah perkebunan tebu, sampah limbah peternakan, perikanan dan lain-lain.
Hasil gambar untuk listrik biogas
  
3.   Pembangkit listrik tenaga Angin
Pembangkit Listrik tenaga angin sudah sering kita dengar namun kita kurang tau bagaiman kelanjutannya di Indonesia ini. Bahkan kita juga tau bahwa di belanda yang dikenal sebagai kincir angin memanfaatkan sumber energi ini untuk keperluan mereka.
Indonesia-pun dapat memanfaatkan energi angin ini. Kita memiliki garis pantai yang sangat panjang. Dimana di pantai akan ada perbedaan tekanan dan suhu yang membuat di pantai angin berhembus kencang.
Pembangkit jenis ini akan cocok digunakan di pesisir pantai Indonesia, seperti di tempat2 wisata pantai yang belum terjangkau listrik. Angin laut yang berhembus kencang akan mampu memutar baling-baling seperti pada Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Hasil gambar untuk listrik angin



4.   Pembangkit Listrik tenaga Air  : Mikro Hidro
Pembangkit Listrik tenaga air sudah menjadi pembangkit umum di indonesia. Namun permasalahan dalam pembangkit ini adalah perlunya sumber air yang besar untuk dapat menghasilkan listrik yang optimal. Diperlukan semacam waduk untuk membuat PLTA dan ini tentunya tidak dapat dibuat begitu saja. Oleh karena itulah pembangkit listrik yang memerlukan pasokan air lebih ini dapat menjadi solusi. Seperti penggunaan sungai air deras atau air terjun untuk menghasilkan listrik.
Pembangkit listrik ini akan cocok digunakan di daerah daerah pedalaman pegunungan yang memiliki air terjun, atau didaerah dengan sungai-sungainya yang besar seperti kalimantan dan sumatera.
Hasil gambar untuk listrik tenagaair
Dari empat alternative di atas saya ingin memilih salah satu aplikasi yang dapat digunakan adalah tenaga surya. Berada di garis khatulistiwa, dengan tingkat penyinaran matahari sepanjang tahun, maka akses penggunaan energi listrik dapat dilakukan secara optimal.
Energi surya, relatif lebih mudah diaplikasikan jika dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya. Dengan hanya menggunakan panel surya 2,5 Wp, yang memiliki dimensi kurang dari 0,1 m² dan berat kurang dari 5 kg, masyarakat desa sudah mampu menyalakan sebuah lampu penerangan. Sistem ini pun dapat dibawa dengan mudah kemanapun.
Untuk kapasitas yang lebih besar, panel surya dapat diaplikasikan sesuai dengan kondisi lingkungan desa. Modul panel surya dapat diletakkan di atas atap rumah, di pekarangan sebagai bale-bale, terpasang menyatu dengan lahan pertanian atau lahan kebun, terpasang di balai desa atau masjid, dan lain sebagainya.Dan bahkan, panel surya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan desa, mulai dari kebutuhan untuk penerangan rumah, listrik untuk internet sekolah, listrik untuk akses informasi di balai desa, listrik untuk irigasi, listrik untuk penerangan jalan, listrik untuk mushola, listrik untuk menangkap ikan, listrik untuk menangkap hama, dan masih banyak lagi aplikasi lainnya.